Gejala, Penyebab dan Pengobatan Untuk Penderita PCOS

admin_ireztia

Penderita PCOS

Apa sih PCOS? Ada yang pernah mendengarnya kah? Jadi PCOS itu merupakan sebuah penyakit yang berhubungan dengan hormon yang biasanya terjadi pada wanita usia produktif. Mungkin kamu jarang mendengar penyakit ini, tapi penyakit ini bisa diderita siapa saja. Yang harus dipahami ternyata pederita PCOS ini bisa menjadi sulit hamil.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai gejala, penyebab dan pengobatan apa yang tepat untuk penderita PCOS, sebaiknya simak ulasan berikut ini.

Penderita PCOS

1.PCOS apakah itu?

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan sindrom ovarium polikistik adalah masalah pada keseimbangan hormon wanita. Pada PCOS, kadar hormon seks wanita, yaitu hormon estrogen dan hormon progesteron tidak seimbang.

Wanita dengan PCOS biasanya memiliki kista kecil (kantong berisi cairan) di ovariumnya, yang membuat ovarium membesar. Kista ini tidak berbahaya, tetapi dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon. Perubahan pada satu hormon dapat memicu hormon lainnya, sehingga terjadi perubahan lain.

Penyakit ini disebut Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom polikistik ovarium karena tumbuh banyak kista (bukan hanya satu kista) pada ovarium wanita. Kista – kista ini tidak membahayakan, namun dapat menimbulkan gangguan hormonal.

Karena ketidakseimbangan hormon yang dimilikinya, wanita dengan PCOS dapat mengalami periode menstruasi yang tidak teratur. Ketidakteraturan periode menstruasi inilah yang dapat menyebabkan wanita dengan PCOS sulit hamil.

Selain dapat menyebabkan periode menstruasi tidak teratur, PCOS juga dapat menyebabkan pertumbuhan rambut berlebih, jerawat, dan obesitas. Jika PCOS tidak diobati, lama-kelamaan juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti diabetes mellitus tipe 2 dan penyakit jantung.

2.Penyebab PCOS

Belum ada pebelitian yang dilakukan untuk mengetahui dengan pasti apa yang dapat menyebabkan sindrom ovarium polikistik, tapi beberapa faktor ini dapat menyebabkan sindrom ovarium polikistik:

a. Keturunan

Faktor genetik disebut – sebut menjadi faktor penyebab PCOS. Jika ibu atau saudara perempuan anda mengalami PCOS. Jika ibu kita atau saudara perempuan kita memiliki PCOS, kemungkinan besar kita juga bisa menjadi penderita PCOS.

Ada juga yang mengatakan bahwa PCOS dapat diturunkan dari sisi keluarga ibu maupun ayah. Pada intinya resiko untuk menderita PCOS tinggi jika salah satu wanita di keluarga menderita PCOS atau mempunyai periode menstruasi yang tidak teratur atau menderita diabetes.

b. Perubahan hormonal

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom polikistik ovarium sering diakibatkan oleh perubahan hormonal. Perubahan hormon yang satu dapat mencetuskan gangguan hormon lainnya. Kelebihan hormon insulin menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom polikistik ovarium.

Resistensi insulin menyebabkan tubuh resisten terhadap insulin, hal itu menyebabkan kemampuan tubuh untuk menggunakan insulin dapat terganggu, tubuh tidak bisa menggunakan insulin untuk menurunkan kadar gula dalam darah, sehingga pankreas sebagai organ penghasil insulin akan terstimulus untuk menghasilkan insulin kembali dalam jumlah banyak untuk menyediakan glukosa (energi) bagi sel.

Kelebihan insulin ini kemudian mungkin akan mempengaruhi indung telur dengan meningkatkan produksi androgen. Peningkatan produksi androgen ini dapat mengganggu kemampuan ovarium untuk ovulasi.

c. Peradangan tingkat rendah

Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita dengan PCOS memiliki peradangan tingkat rendah. Peradangan tingkat rendah ini mampu merangsang ovarium polikistik untuk menghasilkan androgen.

Kelebihan hormon androgen menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan PCOS. Androgen adalah hormon seks laki-laki yang juga diproduksi oleh tubuh perempuan dalam jumlah kecil. Pada PCOS, wanita memproduksi hormon androgen lebih dari normal, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan dan pelepasan telur oleh ovarium, tumbuh jerawat, dan pertumbuhan rambut yang berlebihan.

3. Tanda dan gejala PCOS

Penderita PCOS atau sindrom polikistik ovarium memiliki tanda dan gejala yang timbul segera setelah menstruasi pertama (menarche). Ada juga yang muncul setelah bertahun-tahun mengalami menstruasi teratur. Pada beberapa kasus, penyakit ini sering tekait dengan peningkatan berat badan yang dialami oleh individu tersebut dan dapat menyebabkan Obesitas.

Penderita PCOS mungkin akan menunjukkan gejala yang berbeda-beda, tetapi terdapat gejala yang umum terjadi pada setiap penderita PCOS, yaitu:

a. Periode menstruasi yang tidak teratur.
Ini merupakan gejala tersering yang terjadi pada pasien – pasien dengan sindrom polikistik ovarium. Biasanya interval menstruasi lebih lama dari periode menstruasi biasanya, yaitu lebih dari 35 hari. Umumnya kebanyakan wanita mengalami periode menstruasi 28 hari hingga 35 hari.

b.Ketidak seimbangan hormon seks.
Normalnya, ovarium dapat menghasilkan sejumlah kecil hormon seks pria (hormon androgen). Namun pada sindrom polikistik ovarium menyebabkan kelebihan produksi hormon androgen. Peningkatan hormon androgen yang merupakan hormon yang identik dengan pria ini menghasilkan beberapa perubahan fisik pada wanita antara lain berupa berhentinya ovulasi, pertumbuhan rambut-rambut wajah dan tubuh yang dominan (hirsutism), jerawat atau acne yang tumbuh cukup banyak, hingga terjadinya kebotakan (alopesia androgenik).

c.Adanya polikistik ovarium.
Kista-kista yang muncul pada ovarium makin membesar dan mengandung kantung-kantung yang berisi cairan yang mengelilingi telur (ovarium).

d. Gangguan pada hormon insulin.
Ketidak seimbangan hormon yang terjadi pada Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom polikistik ovarium bukan hanya terkait hormon seks saja, namun juga hormon lainnya. Tubuh akan mengalami gangguan dalam menggunakan hormon insulin, atau disebut juga resistensi insulin.

Saat tubuh tidak dapat menggunakan hormon insulin dengan baik maka kadar gula dalam darah bisa meningkat dengan pesatnya sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya diabetes melitus. Hormon insulin merupakan hormon yang berperan untuk menurunkan kadar gula dalam darah.

e. Masalah fertilitas atau kesuburan.
Banyak wanita dengan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom polikistik ovarium mengalami kesulitan untuk hamil.

4. Pengobatan untuk Penderita PCOS

Pengobatan bagi penderita PCOS lebih menitikberatkan kepada bagaimana mengatasi gejala-gejala yang muncul, seperti infertilitas, hirsutism, acne (jerawat) ataupun obesitas. Ada beberapa upaya yang biasa diberikan dokter dalam upaya mengatasi POCS yaitu antara lain:

a.Perubahan gaya hidup
Dokter akan menyarankan penderita PCOS untuk menurunkan berat badan dengan diet rendah kalori dan juga olahraga.

b.Terapi Obat
Biasanya obat-obatan yang diberikan dokter untuk mengatasi keluhan-keluhan yang muncul, contohnya:
1)Obat untuk mengatasi siklus menstruasi agar lebih teratur, misal dengan pemberian obat hormonal seperti pil estrogen dan progesteron.
2)Obat untuk menurunkan kadar gula darah, misal metformin, atau obat penurun gula darah lainnya.
3)Obat untuk menstimulus ovulasi. Pada pasien yang sedang mengupayakan untuk hamil, seringkali dibutuhkan obat untuk menstimulus ovulasi, misal clomiphen, injeksi FSH dan LH, dan lain sebagainya.
4)Obat untuk mengurangi pertumbuhan rambut yang berlebihan, misal dengan pemberian pil KB dengan tujuan untuk menurunkan kadar hormon androgen ataupun dengan pemberian obat lainnya.

5.Dampak PCOS

PCOS dapat dihubungkan dengan peningkatan risiko terhadap penyakit lain, contohnya:
a.Diabetes.
Lebih dari setengah wanita dengan PCOS dapat mengalami diabetes atau pre-diabetes sebelum usia 40 tahun. Hal ini mungkin disebabkan oleh hubungan antara kelebihan insulin dengan hormon androgen yang menjadi salah satu faktor PCOS.

b.Tekanan darah tinggi (hipertensi).
Wanita dengan PCOS memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami tekanan darah tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami PCOS.

c.Kolesterol tinggi.
Wanita dengan PCOS biasanya memiliki kadar kolesterol jahat (LDL) yang lebih tinggi dibandingkan dengan kadar kolesterol baik (HDL) dalam tubuhnya. Kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

d.Sleep apnea.
Sleep apnea adalah gangguan sesaat ketika seseorang berhenti bernapas secara berulang selama tidur. Biasanya wanita dengan PCOS juga mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Hal ini menyebabkan risikonya untuk mengalami sleep apnea lebih tinggi.

e.Kanker endometrium.
Wanita dengan PCOS biasanya mengalami masalah pada ovulasi, obesitas, resistensi insulin, dan diabetes. Semua ini dapat meningkatkan risikonya untuk mengembangkan kanker endometrium (lapisan pada rahim).

f.Depresi dan kecemasan.
Umum terjadi pada wanita dengan PCOS.
Semakin cepat mengetahui kita sebagai penderita PCOS, semakin rendah kemungkinan komplikasi seperti di atas bisa terjadi. Tidak merokok, melakukan olahraga teratur, dan makan makanan dengan gizi seimbang dapat menurunkan risiko Anda untuk mengalami komplikasi tersebut.

Adakah kemuningkinan hamil pada penderita PCOS?

Wanita dengan PCOS bukan berarti ia tidak dapat hamil. masih bisa kemungkinan untuk hamil jika penderita PCOS rajin berobat ke dokter. Karena jika penderita PCOS sudah berhasil hamil, maka penderita PCOS memiliki risiko tinggi mengalami:
• Keguguran
Diabetes gestasional
• Preeklampsia
• Dan, kelahiran caesar
• Kelahiran Bayi besar (makrosomia).

Penderita PCOS dapat mengurangi risiko kesehatan saat hamil dengan melakukan:
• Menjaga berat badan dalam batas normal sebelum kehamilan
• Menjaga kadar gula darah dalam batas normal sebelum hamil
• Menerapkan pola makan sehat
• Melakukan olahraga teratur
• Penuhi kebutuhan asam folat mulai dari sebelum kehamilan, bisa dari makanan maupun suplemen

Semoga penjelasan diatas bisa membantu ya. Untuk semua penderita PCOS tetap semangat selalu berdoa, berusaha semaksimal mungkin dan rajin untuk konsultasi ke dokter. Baca juga 10 Merk Softlens yang Bagus Untuk Dicoba

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply