Pengertian, Manfaat dan Resiko Operasi Laparoskopi

admin_ireztia

Laparaskopi? Apa ya, kayanya masih terdengar asing ya istilah laparoskopi itu. Ternyata laparoskopi merupakan salah satu tindakan bedah. Tindakan bedah? Operasi? Yap, operasi laparoskopi akan kita bahas di kesempatan ini.

Mendengar kata operasi biasanya kita sudah membayangkan tindakan yang mengerikan. Tapi dalam beberapa kasus bedah atau operasi sering kali harus ditempuh sebagai solusi menyembuhkan tubuh dari penyakit. Rasa kekhawatir pun langsung muncul, rasa takut pascaoperasi seperti tingkat rasa sakitnya seperti apa, opname berhari-hari dan pemulihannya yang lama membuat kita sulit kembali beraktifitas.

Hal-hal seperti itu membuat kita menjadi bimbang, operasi jangan ya? Kekhawatiran itu sering membuat kita menunda-nunda untuk melakukan operasi. Padahal dokter yang dijadikan tempat konsultasi menyatakan bahwa operasi harus dilakukan supaya segera bisa disembuhkan. Hasilnya, penyakit itu sudah semakin parah dan biasanya ditambah lagi muncul peradangan atau infeksi.

Mari kita simak penjelasan operasi laparoskopi yang disebut-sebut minim dengan kekurangan akan tetapi banyak kelebihannya dari operasi laparoskopi ini.

Baca juga : Estimasi biaya Inseminasi yang harus disiapkan.

a. Pengertian

Laparoskopi adalah teknik bedah invasif minimal yang menggunakan alat-alat berdiameter kecil untuk menggantikan tangan dokter bedah melakukan prosedur bedah di dalam rongga perut. Kamera mini digunakan dengan terlebih dahulu dimasukkan gas untuk membuat jarak pemisah antara rongga sehingga dapat terlihat dengan jelas. Dokter bedah melakukan pembedahan dengan melihat layar monitor dan mengoperasikan alat-alat tersebut dengan kedua tangannya.

Tetapi harus diingat bahwa teknik laparoskopi bukan merupakan senjata pamungkas yang selalu berhasil dilakukan pada semua kondisi. Terkadang jika radang atau infeksi penyakit pasien sudah sangat hebat, maka terpaksa dibatalkan dan dilakukan konversi menjadi bedah konvensional dengan sayatan besar.

Infeksi itu terjadi karena pasien sering menunda-nunda pelaksnaaan operasi yang sudah disarankan dokter. Akhirnya, muncullah radang dan perlengketan usus hebat yang tidak cocok lagi untuk ditangani dengan teknik laparoskopi.

Oleh karena itu, jangan terlambat atau menunda-nunda pelaksanaan operasi. Selain itu ada pula kondisi yang membuat teknik laparoskopi tak bisa dilakukan, yaitu bila pasiennya sangat gemuk. Penyakit yang sama memang bisa ditangani berbeda pada tiap-tiap orang. Karenanya konsultasi ke dokter yang tepat memang harus dilakukan dengan intensif supaya bisa diketahui penanganannya yang tepat.

b. Persiapan sebelum operasi

Persiapan yang harus dilakukan pasien yang akan menjalani prosedur laparoskopi antara lain :
Puasa minimal 6 jam sebelum melakukan tindakan laparoskopi. Memberitahukan ke dokter mengenai obat yang dikonsumsi. Ada obat-obatan yang dapat tetap dilanjutkan menjelang laparoskopi, namun ada juga obat-obatan yang harus dihentikan penggunaannya. Beberapa jenis obat yang harus dihentikan menjelang laparoskopi antara lain : obat antikoagulan (menghambat pembekuan darah), golongan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) seperti aspirin dan ibuprofen, obat-obatan herbal dan suplemen vitamin K.

Pasien harus melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium darah, urinalisis, pemeriksaan rekam jantung (EKG) dan juga rontgen dada. Bahkan jika diperlukan dapat dilakukan tindakan USG, CT scan atau MRI. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk membantu dokter mengetahui gambaran umum kondisi yang terjadi di dalam rongga perut.

Pasien meminum obat enema atau suppository beberapa jam atau pada malam sebelum tindakan untuk mengosongkan usus besar. Wanita yang sedang hamil harus memberitahukan ke dokter untuk memperkecil resiko yang dapat timbul. Pasien harus memberitahukan kepada dokter, adanya riwayat alergi terhadap penggunaan obat-obatan anestesi.

Pasien tidak boleh mengenakan perhiasan, kacamata, lensa kontak, atau gigi palsu selama tindakan laparoskopi. Pada saat tindakan laparoskopi, pasien akan dibius total sehingga pasien tertidur dan tidak merasakan sakit sama sekali. Namun ada juga tindakan laparoskopi yang menggunakan bius lokal, hanya terbatas pada lokasi sayatan tempat memasukan selang laparascope. Dengan bius lokal, pasien masih tetap sadar namun tidak merasakan sakit.

Setelah tindakan laparoskopi selesai, pasien akan diobservasi selama 2 – 4 jam sampai seluruh tanda-tanda vitalnya stabil. Tanda-tanda vital yang diperiksa meliputi tekanan darah, laju pernafasan, denyut nadi, dan juga suhu tubuh. Selain itu juga diawasi ada tidaknya efek samping dari obat-obatan anestesi yang digunakan dan tanda-tanda perdarahan.

Setelah diyakini seluruh kondisi pasien stabil maka pasien diperbolehkan untuk pulang. Semua tindakan medis dapat menimbulkan resiko dan efek samping terhadap pasien. Akan tetapi tindakan laparoskopi ini menimbulkan resiko yang sangat kecil bagi pasien.

c. Prosedur Operasi Laparoskopi

Laparoskopi mampu memberikan keuntungan meminimalkan nyeri pascabedah bagi pasien secara signifikan, dan memiliki keunggulan tambahan kosmetik yang baik karena luka operasinya hanya berupa beberapa sayatan kecil sepanjang 0,5 – 2 cm. Tindakan laparoskopi hampir 100 persen menggunakan teknologi canggih. Berbeda dengan pembedahan konvensional, sayatan lebar agar perut menganga dan organ dalam rongga perut bisa dilihat mata telanjang,

Teknik laparoskopi itu biasanya membuat minimal tiga lubang sayatan atau lazimnya disebut port. Melalui lubang-lubang itulah alat bedah akan dimasukkan dan operasi pun dilakukan. Saat ini teknik laparoskopi pun sudah semakin berkembang dengan munculnya teknik single port laparoscopic surgery. Tidak lagi ada tiga lubang atau lebih, proses operasi itu hanya akan menyayat satu lubang, yaitu di pusar.

Proses bedahnya secara sederhana dimulai dengan pembiusan umum. Kemudian dokter bedah akan membuat satu sayatan di pusar 2-3 cm untuk memasukkan gas CO2 yang sangat aman untuk menciptakan lapang operasi. Setelah itu dimasukkanlah teleskop dan isntrumen pembedahan.

Setelah pembedahan selesai, specimen jaringan akan dikeluarkan melalui lubang yang sama secara steril. Kemudian dikeluarkan juga gas CO2 dan instrumen bedah. Lukapun dijahit dan dirawat secara biasa.

Berhubung sayatan sangat kecil tentunya juga bagus untuk penyembuhan luka dibanding tindakan konvensional.Begitu juga dalam rongga perut, ahli bedah pun tidak banyak mencederai usus lain, karena situasi dalam rongga perut dapat dipantau dengan mudah melalui monitor, kamera yang ada dalam rongga perut bisa diarahkan kemana arah yang diinginkan.

Sedangkan pembedahan konvensional, tentunya usus yang lain ikut dikeluarkan/ dieksplorasi hingga objek yang diinginkan bersua, karena dieksplorasi,dipegang,diraba,ditarik,dan dikeluarkan tentunya memungkinkan terjadinya cedera.

d. Jenis Laparoskopi

Pada bidang ginekologi (kesehatan organ reproduksi wanita), kondisi yang dapat ditangani dengan teknik laparoskopi antara lain:
1. Mioma uteri
2. Tumor ovarium
3. Nyeri haid
4. Endometriosis
5. Adenomiosis
6. Iinfertilitas
7. Sterilisasi tuba
8. Pelengketan saluran tuba
9. Pelengketan organ genitalia
10. Kehamilan di luar kandungan
11. Pengangkatan rahim atau ovarian drilling.

e. Keuntungan

Keuntungan teknik operasi laparoskopi antara lain:
1. Kerusakan jaringan lebih ringan
2. Nyeri pasca operasi lebih ringan
3. Lama perawatan lebih singkat
4. Resiko infeksi lebih kecil
5. Sisi kosmetik lebih baik karena sayatan yang minimal
6. Proses penyembuhan lebih singkat

f. Kekurangan

Kekurangan teknik operasi laparoskopi Antara lain:
1. Waktu operasi yang berpotensi lama
2. Biaya operasi lebih tinggi karena dibutuhkan alat dan keterampilan khusus.
3. Risiko operasi
4. Tidak bisa dilakukan bila sudah terjadi infeksi atau peradangan

g. Biaya

Untuk biaya operasi laparoskopi tentu lebih mahal jika dibandingkan operasi konvensial, hal ini disebabkan 100% tindakan operasi laparoskopi menggunakan teknologi yang canggih. Tidak semua fasilitas kesehatan menawarkan operasi laparoskopi. Kisaran harga operasi laparoskopi yaitu 20-40jtan. Bagi peserta BPJS ternyata menurut artikel pasien sehat biaya operasi laparoskopi bisa ditanggung oleh BPJS.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply