Pengalaman Live On Board (LOB) – Sailing Komodo, Flores

ireztia

Ga ada orang yang bisa menyangkal kalau Flores menjadi destinasi impian buat semua traveler. Semuanya serba cantik. Ya savanna nya, ya bawah lautnya, ya pemandangan atas bukitnya, ya komodonya, pemandangan eksotis Flores ini bisa dibandingkan dengan mewahnya pemandangan miliki Raja Ampat.

Bagaimana tidak, jika dari awal matahari terbit hingga malam bertabur bintang, alam Flores selalu memanjakan mata. Ahh…

Gue dan aa sengaja mengambil start dari Lombok agar bisa menginap (kembali) di Gili Trawangan karena kita punya mainan baru, (yihaaaaa!!!)

Jadi, hasil dari semedi berbulan-bulan akhirnya kita bisa meminang si Phantom sebagai teman berkelana kita dalam setiap perjalanan kami untuk beberapa tahun ke depan. Dia punya misi yang amat penting dalam setiap perjalanan lho. Tugasnya berat (halah !!!!) yaitu wajib memotret gue dari ketinggian bila sedang renang-renang syanteeek atau jalan-jalan sok perawagati di bibir pantai. (Hueeekkk !!!)

Oke, jadilah akhir April itu kita berangkat ke Gili Trawangan. Kali ini kita memilih untuk menginap di Trawangan Dive Center dengan alasan punya kolam renang yang photoable dan bar depan pantai persis. Tapi ternyata gue harus dikecewakan oleh kenyataan bahwa Gili Trawangan (IMHO) tidak senyaman dulu lagi. Bibir pantai lebih kotor dari biasanya oleh bekas-bekas kayu dan bahan bangunan. Gili Trawangan memang mengalami pembangunan resort dan café yang cukup pesat dari terakhir kami kesini 2014 silam. Juga, kami tidak bisa lagi menemukan resort yang memiliki view menghadap pantai secara langsung karena hampir seluruh bibir pantai kini dipenuhi café dan resto seperti layaknya di Kuta Beach.

Terlalu ramai. Gue cukup sedih dengan kenyataan ini meski pantai Gili Trawangan tetap seindah dulu.

Ketika check in di Trawangan Dive, kami diberi welcome drink dan handuk dingin yang wangi untuk menyegarkan wajah lelah ini. Oke, saya hampir lupa kalau aa sedang (maaf) diare sejak berangkat dari Bandung tanpa diketahui pasti penyebabnya. Hari pertama di Trawangan yang awalnya direncanakan untuk berenang di pantai, dia habiskan untuk bolak-balik ke toilet. Dan gue tak berhenti mengomel karenanya.

Sedikit memaksakan, akhirnya menjelang senja kami berjalan kearah barat Trawangan untuk mencari spot bagus untuk menerbangkan si Phantom. Namun karena terlalu sore, warna pantai yang didapat tidak sebiru yang dibayangkan. Pemandangan sunset yang terekam Phantom cukup menghibur sore itu.

Sial, malamnya secara mendadak gue ketularan aa ikut terkena diare. Malah diare gue lebih parah, karena disertai muntah, mual dan demam. Kami sampai tidak makan malam hari itu dan baru punya tenaga lebih keesokan paginya untuk sarapan.

Sarapan yang disajikan di Trawangan Dive terbilang memuaskan. Sajiannya parasmanan. Gue yang biasanya ga mau rugi dan selalu ambil banyak makanan, kali ini sudah cukup puas dengan omelet dan roti panggang. Padahal pilihan menunya banyak, dan disediakan cafetarianya tepat di depan pantainya. Sangat cantik.

Namun kesehatan yang sedang tidak cantik inilah merusak keadaan. Gue dan aa memutuskan untuk pergi ke klinik pagi itu juga dengan badan gemeteran dan minta diresepkan obat paten. Kami beristirahat total hari itu, hari dimana awalnya kami berencana untuk diving (karena 2x kita ke Trawangan, kita belum pernah diving disana).

Intinya semua rencana di Gili Trawangan gagal total. Miris. Menyedihkan. Kesal dengan keadaan. Ga kehitung kami berdua kompak diare disaat liburan dan rute seharian itu cuma kasur dan closet.  Malah sempet rebutan toilet juga. Pedih hati ini juragaannnn !!!

Siangnya sekitar pukul 14.00, kami merasa sudah agak baikan sehingga nekat kembali menerbangkan Phantom demi mendapatkan video udara yang oke. Gue yang (merasa) sedikit sehat untuk sekedar floating on the sea benar-benar happy saat melihat hasil aerial video kami di Trawangan yang cantik.

Namun, kenekatan itu ternyata harus dibayar mahal karena malamnya keadaan gue malah makin parah. Menaiki sepeda dengan sempoyongan dan keluar keringet dingin untuk menuju pasar malam, berasa tukang bakar ikan nyiapin pesenan kita setaun lamanya saking gue ga bisa menahan rasa pusing, demam, mual dengan bau amis ikan yang menusuk hidung.

Ga sanggup makan di tempat, gue memutuskan membawa ikan bakar kami pulang ke resort dan parahnya kami sama sekali tak menyentuh makan malam itu karena lemas dan memilih tidur saja.

Besoknya, keadaan aa kelihatannya sudah membaik karena dia berhenti jadi pelanggan toilet. Sementara gue masih demam dan tetap bertamu ke toilet hampir 1 jam sekali. Sumpah, satu-satunya doa gue pagi itu hanyalah Allah mencabut rasa mual ini biar gue bisa berjalan seperti layaknya orang sehat. Di saat yang bersamaan, gue ga sanggup kalau harus ngebayangin hidup di kapal selama beberapa hari ke depan dan dibuat mabuk laut dalam keadaan yang sudah super mabuk sebelumnya. Bonus, ditambah dengan bolak balik ke WC umum di kapal sejam sekali itu adalah liburan yang sangat mengerikan.

Oh my God, please !!

Sempat berpikir untuk menyerah dan balik lagi ke Bandung untuk membatalkan semua rencana sailing trip Komodo ini. Apalagi kami dengan budget pas-pasan hanya sanggup join di trip regular dimana kami tidur di deck kapal tanpa air tawar yang memadai.

Pertanyaan tentang bagaimana gue menjalani LIVE ON BOARD dengan kondisi DIARE seperti ini sungguh menyiksa batin. Gue juga ga tahu penyebab diare ini kenapa harus dateng pas gue liburan, kenapa ga milih tanggal lain aja. L

Namun Allah masih ngasih pertolongan ketika staff travel menawarkan kita untuk upgrade kamar ke kabin. Tanpa pikir panjang gue langsung iyain karena dengan kamar kabin lah gue bisa tenang guling-guling untuk menahan mual dan bolak-balik ke WC tanpa terlalu annoying menarik perhatian orang.

Dan ketika kapal menjemput kita di pelabuhan Bangsal, sepertinya cuma gue dan aa yang berjalan gontai, tidak sesemangat yang lainnya. Gue langsung masuk kamar dan menggeleparkan diri di atas kasur busa yang panas. Tak memiliki keinginan untuk sekadar ber-say hai kepada teman sekapal, karena satu-satunya impian gue saat itu adalah tidur dan berharap mual ini segera mereda.

Kipas angin belum menyala saat itu. Gue merasa seperti di sauna. Kapal terasa sekali bergoyang dan membuat gue makin keleyengan. Sore pertama hidup di kapal gue habiskan untuk bolak-balik ke WC. Lupakan indahnya impian orang tentang damainya hidup di kapal dan melihat sunset yang romantic. Bahkan, makan malam pun gue masih ga sanggup bangun karena langsung mual seketika seperti orang vertigo. Sampai-sampai aa yang nyuapin gue dengan tatapan sedih. Untuk wudhu dan shalat pun gue lakukan sambil tertidur.

Sedih ya Allahhhhh….

Semalaman berjuang untuk sembuh, sepertinya obat dari dokter itu baru mulai bekerja di hari ketiga. Diare udah mulai menghilang, tinggal sisa demam dan pusing saja. Dini hari, gue udah bisa shalat subuh sambil duduk dan menghirup udara laut yang menyenangkan.

Merasa lebih baik, gue sedikit bersemangat untuk mengganti pakaian. Pertama kalinya gue keluar kamar dan mendapati beberapa teman masih tertidur pulas di deck bawah. Barulah gue mengamati interior kapal. Terdapat dua lorong di kanan kiri yang ternyata berisi masing-masing 3 kamar. Ada 2 kamar mandi dan tangga menuju ke atas deck.

Melangkah hati-hati kearah depan kapal, gue mengabadikan moment sunrise yang indah pagi itu.

Mendapat hangatnya sinar matahari pagi di laut Lombok, seketika tubuh gue merespon positif. Semakin merasa lebih sehat, gue bisa sarapan pagi itu dengan lahap dan meminum segelas teh hangat. Pagi itu kami berlabuh di Pulau Moyo.

Meski masih sedikit limbung dan berkeringat dingin, gue berhasil berjalan memasuki area pulau yang memiliki air terjun cantik itu dengan selamat. Aa berkali-kali menanyakan apakah gue baik-baik saja karena katanya gue masih sangat pucat. Well, meski masih pusing gue berusaha untuk tetap menikmati air terjun yang dingin itu dan berenang disana untuk beberapa saat.

Air terjun Mata Jitu di Pulau Moyo memang cantik. Kabarnya, Putri Diana pernah datang kesini dan mandi di air terjun yang segar ini. Air terjun Mata Jitu memiliki tipikal air yang photoable. Belum lagi dengan bentuk pulau yang menawan jika dilihat dari udara.

Selanjutnya, kami berlayar menuju Pulau Satonda. Selama perjalanan, gunung-gunung savanna sudah menyapa kami dengan hangat. Warna kekuningan karena musim kemarau menambah kilau matahari yang menerpa dataran disana. Pemandangan yang sangat cantik !

Di Satonda, kapal berhenti sekitar 100 meter dari pasir pantai mengingat banyak terumbu karang di sekitar bibir pantai. Untuk menuju daratan, pilihannya ada dua. Berenang atau dijemput sama perahu sampan. Dan gue memilih alernatif kedua dengan alasan masih ga enak badan (padahal males renang sejauh itu tanpa bantuan life vest)

Setelah dirasa punya kekuatan lagi untuk bersnorkeling, akhirnya gue berenang diantara terumbu cantik Satonda dan menemukan banyak nemo yang mengintip malu-malu saat difoto. Terumbu karang di Satonda cukup rendah, gue bersyukur ga pakai fin saat itu karena bisa mematahkan karang tanpa saya sengaja. (Well, semakin kesini saya semakin paham bahwa menginjakan kaki di karang adalah perbuatan yang tidak termaafkan karena bisa berpotensi merusak dan mematahkan karang yang butuh puluhan tahun untuk kembali tumbuh).

Cukuplah hari itu kami memanjakan diri dengan air laut. Menjelang sore kapal diharuskan kembali berlayar untuk menuju Gili Lawa. Membutuhkan waktu 16-18 jam perjalanan laut untuk mencapai kesana. Perjalanan panjang dan membosankan karena selama itu pula tidak ada sinyal telekomunikasi sama sekali.

Tapi jika kamu menginginkan kedamaian, inilah saatnya kamu bergerak menuju atas deck kapal. Tidak akan ada orang di luar sana yang bisa mengganggumu. Inilah rasanya Lost in Komodo !!

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply