Traveling ke Misool – Raja Ampat : Puncak Dafalen, Goa Keramat, dan Goa Telapak Tangan

ireztia

Catatan perjalanan Misool, Desember 2017

Epilog :

Beruntungnya saya karena memilih Misool sebagai destinasi penutup tahun 2017.

Misool adalah bagian selatan Raja Ampat yang belum banyak dieksplore seperti area Wayag sehingga masih minim pengunjung. Masih perawan.
Dan Misool terlalu elok untuk saya nikmati sendiri. Kalian semua harus tahu, semua masyarakat Indonesia harus tahu, bahwa ada tempat tersembunyi yang sangat luar biasa kekayaan alamnya di timur Nusantara sana. Meski di satu titik terbersit pemikiran, biarlah Misool tetap terisolir seperti ini, agar keperawanannya tetap terjaga. Namun di sisi lain, Misool terlalu elok jika harus disembunyikan. Dilema…

Setelah kemarin saya dibawa ke Goa Putri Termenung, pagi ini saya sangat bersemangat. Membuka jendela kamar dan menemukan langit pagi yang berwarna oranye keunguan. Sunrisenya hari itu tidak terlalu cerah karena semalam turun hujan, namun kami masih mendapati foto sunrise yang terbilang cantik.

Setelah sarapan, cuaca mulai mendukung. Matahari mulai terlihat dan kapten Akbar bilang kalau kita akan mendaki Puncak Dafalen terlebih dahulu. Mumpung cuaca cerah.

Speedboat membawa kami sekitar pukul 08.00. Selama perjalanan, kami menemui pulau-pulau karst mini yang epik. Langit cerah sekali saat speedboat bersandar di bibir pantai yang sudah dipenuhi terumbu karang yang mati. Kami harus melewati sedikit lumpur untuk memulai trekking.

Puncak Dafalen sebenarnya hanya sekitar 60 meter ketinggiannya. Namun, pendakian terasa lebih sulit karena belum ada jalur yang bagus untuk didaki. Bebatuan yang tajam membuat kita harus ekstra hati-hati untuk memilih mana yang bisa dipijak dan dijadikan pegangan.

Beruntung ada tangga-tangga kayu yang dibuat oleh masyarakat sebagai alat bantu kami menaiki undakan batu. Meskipun tangga tersebut sangat licin dan curam, tapi sudah sangat membantu untuk mempercepat proses pendakian. Kami membutuhkan waktu sekitar 15-30 menit untuk bisa mencapai puncaknya.

Ketika sampai di puncak, saya merasakan takjub yang luar biasa. Bagaimana tidak, gugusan pulau karst berdiri kokoh di bawahnya. Belum lagi bentuk “Love” yang terbentuk dari perbedaan dasar laut yang amat sangat indah. Tak peduli seburuk apapun arah arus dan angin, perairan di Raja Ampat tidak pernah mampu mencampurkan warna toska dan biru tua sehingga selalu membentuk gradasi yang sangat jelas. Rasanya ingin berlama- lama untuk duduk di puncak karena pemandangan yang mempesona ini. Kami bergantian mengabadikan foto di puncak Dafalen karena hasil jepretan kita akan selalu keren dari berbagai sudut pandang manapun.

 

Selain itu, Puncak Dafalen masih sepi akan pengunjung. Tidak seramai Pianemo ataupun Wayag. Oleh karena itu, kita benar-benar menikmati puncak Dafalen secara private, menerbangkan drone dan sangat leluasa untuk memilih berbagai latar dan berpose seperti yang diinginkan.

Goa Telapak Tangan

Selepas menuruni Puncak Dafalen, speedboat mengantar kami menuju Goa Telapak Tangan. Terletak di pulau Sunmalele Atsa, Misool, ada lukisan telapak tangan yang jangan sampai kami lewatkan. Lukisan tersebut berada di Goa Telapak Tangan berupa ceruk tebing karst. Dari Kampung Harapan Jaya, tempat tersebut dapat dicapai dengan speedboat yang akan memakan waktu sekitar 15 menit.

Lukisan telapak tangan banyak terdapat di bagian atas goa berupa dinding tebing karst. Dilihat dari atas kapal, kami bisa melihat lukisan tangan itu, tak perlu turun dari kapal. Karya seni tersebut berjarak hanya sekitar 2 meter dari permukaan air laut yang berada di bawahnya dan memang ada di tepian pulau karst.

Wisata purba ini memang tidak dilengkapi dengan informasi yang memadai. Namun, menurut warga setempat, lukisan tersebut dibuat oleh manusia purba dan sudah ada sejak zaman prasejarah. Bila dilihat sepintas, lukisan tangan tersebut memang mirip dengan lukisan di situs Goa Leang- Leang, Sulawesi Selatan.

Gambar telapak tangan di Misool ini tersebar di berbagai sisi dinding tebing karst dan berwarna merah kecoklatan. Mereka sebut itu dengan Sunmalele. Galeri seni rupa purba peninggalan peradaban lampau berupa ikan, telapak tangan manusia, dan panah terpajang di antara bebatuan karangnya.

Gambar-gambar tersebut masih banyak yang dalam keadaan bagus. Namun, ada pula yang seringakali diterap air laut sehingga mulai rusak. Ada bagian dinding yang tertutupi kapur dan ada juga yang terkelupas yang menyebabkan gambarnya mulai tak jelas.

Walaupun begitu, tetaplah menyenangkan untuk melihat langsung lukisan telapak tangan purbakala tersebut. Tempat wisata sejarah dan purba itupun menjadi pelengkap kunjungan kami di Missol, Raja Ampat.

Goa Keramat

Ada satu lagi Goa spektakuler yang harus kita datangi hari itu. Namanya Goa Keramat. Goa yang menjadi bukti nenek moyang dan cikal bakalnya tersebarnya agama Islam di Misool.

Untuk menuju ke Goa Keramat, kita kembali berkendara selama kurang lebih 1 jam. Dari kejauhan, sudah terlihat ada lafadz “Allah” di atas kepala goa yang membuat saya bertanya-tanya, siapa gerangan yang bisa membuat lafadz tersebut di ketinggian itu? Namun menurut penelitian, lafadz Allah itu terbentuk dari bekas tetesan air yang kemudian menggerus dinding kapur.

Banyak cerita menyebutkan bahwa pengunjung yang memiliki niat buruk tidak akan pernah menemukan keberadaan Goa Keramat. Selain itu, tidak semua masyarakat Misool mengetahui keberadaan Goa Keramat ini. Oleh karena itu, ajaklah masyarakat adat atau pemandu lokal yang mengetahui betul lokasi Goa ini dan juga kondisi lautnya.

Teluk Tomolo yang merupakan lautan di kawasan Goa Keramat sangatlah tenang. Siapapun akan tergoda untuk bercermin di atas permukaan laut yang memiliki warna hijau tosca itu. Sebagai pertanda tiba di Goa Keramat, kami disambut dengan gerbang berupa bongkahan batu karang yang saling berhadapan. Konon, bagi anda yang beruntung, anda akan melihat sepasang batu yang menyerupai wajah wanita dan pria yang sedang berpandangan.

Di pelataran, ada dua makam nenek moyang yang oleh Masyarakat Missol dipercaya sebagai wali. Lamanya angin selatan membuat nisannya dipenuhi oleh dedaunan yang layu dan menjadi berlumut. Menurut mitos, dua wali tersebut adalah suami istri yang datang dari Banda. Namun, nama wali yang dimakamkan disisini masih menjadi rahasia.

Bahkan, bagi Masyarakat Misool yang akan berangkat haji, berziarah ke Makam Goa Keramat adalah suatu keharusan. Pemandu yang menemani berburu jejak nenek moyang pun akan memimpin anda untuk memanjatkan doa.

Dari mulut goa kita dapat melihat air laut berwarna turquoise, dan mulut goa yang sangat indah dengan stalaktit dan stalagmit. Alih-alih terlihat keramat, bagi saya goa ini terlihat sangat indah.

Aura dingin memang terasa, terlebih karena atap gua yang selalu meneteskan air segar saat kita memasuki gerbangnya. Nuansa purba semakin terasa saat kami mencoba untuk berenang memasuki Goa Keramat ini.  Namun yang harus diingat, sebagai pengunjung kami wajib menjaga sikap dan perkataan karena ini adalah lokasi yang disucikan oleh masyarakat lokal.

Ketika memasuki bagian dalam, akan ditemukan spot untuk melompat kedalam air dari ketinggian. Tak heran mengapa banyak wisatawan yang terus membicarakan situs ini. Goa Keramat telah ditempatkan sebagai objek terpenting di Misool oleh masyarakat lokal. Mereka mengatakan bahwa jangan anggap anda pernah ke Misool jika anda belum ke Goa Keramat.

Baca selanjutnya, catatan perjalanan saya menaiki Puncak Harfat Jaya dan berenang bersama ubur-ubur jinak di Misool.

NOTES:

  • Misool terletak di area Selatan Raja Ampat. Untuk menuju ke Misool ambil penerbangan menuju Sorong. (Penerbangan Jakarta – Sorong biasanya via transit di Makassar, budget Rp. 4 juta PP). Dari Sorong dilanjutkan dengan speed boat selama 4-5 jam perjalanan.
  • Terdapat homestay Nut Tonton, homestay terbaik yang ada di Misool dan berlokasi dekat dengan Misool Eco Resort. Budget mulai 750.000 – 950.000 / kamar per hari.
  • Sewa kapal ke Misool sangat mahal sehingga untuk mendapatkan budget trip sekitar 6 juta selama 5 hari, anda harus share hingga 20 orang dalam satu kali trip. Lebih baik ikut penyedia trip seperti 8elapan Trip yang menyediakan Misool Trip dengan budget 6 juta (exclude tiket pesawat).
  • Penginapan yang tersedia hanya homestay, pilihan lain adalah Misool Eco Resort dengan rate Rp. 5,8 juta per orang per hari.
Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply