3 Faktor Penentu Lahirnya Jiwa Pengusaha Dalam Diri Anda

ireztia

Ngomongin serba-serba usaha emang ga ada habisnya. Dan tiba-tiba aja saya kepikiran tentang apa yang membuat jiwa pengusaha seseorang terlahir dan membentuk karakter pengusaha yang solid. Tapi sebelumnya boleh sedikit bernostalgia dulu ya, hehe…

Saya kebetulan terlahir dari pasangan Sunda-Padang yang memiliki latar belakang berbeda. Ayah saya, turunan Minang yang terlahir di keluarga pedagang garis keras sementara ibu saya dibesarkan dari keluarga pegawai. Saya menyadari sejak kecil bahwa pola pikir kedua orangtua saya seringkali bertolak belakang. Terutama menyangkut gaya hidup dan cara membelanjakan uang.

Ibu saya cenderung lebih memanjakan anak-anaknya dan mudah mengamini setiap keinginan anaknya. Namun bagi papa saya, kebutuhan yang akan ia penuhi terhadap anak-anaknya hanya menyangkut 2 hal, yaitu kesehatan dan pendidikan. Di luar itu, jangan harap kami mendapatkan secara cuma-cuma.

Namun karena ibu saya hanya pegawai negeri biasa, kemampuan beliau untuk memanjakan kami pun terbatas. Seingat saya, saya hanya pernah merayakan ulangtahun sekali saat saya berusia 4 tahun. Memiliki baju baru beberapa bulan sekali dan pergi ke taman bermain sebulan sekali.

Saya diajari oleh ayah saya bahwa untuk membeli barang-barang keinginan seperti tas, sepatu, mainan mahal, handphone, harus saya dapatkan dengan menggunakan tabungan uang saku saya sendiri. Jadi saya diajari untuk melakukan pengorbanan terlebih dahulu untuk memiiliki barang yang saya impikan.

Tapi ada 1 benda yang bukan menjadi kebutuhan saya tetapi selalu diberikan kepada saya sejak kecil. Apa itu?

Buku. Ya, seingat saya sejak kecil dibanjiri banyak buku oleh ibu saya. Mulai dari majalah anak-anak Bobo, tabloid Fantasi, cerita hikayat, dongeng para nabi, hingga ensiklopedia anak-anak yang berwarna-warni.

Setelah beranjak remaja, kebiasaan membaca buku membawa saya untuk jatuh cinta pada dunia jurnalistik. Saya mengidolakan banyak penulis buku dan ingin menjadi penulis terkenal suatu hari nanti. Kebahagian terbesar saya saat itu adalah jika saya melihat buku karya saya terpajang di Gramedia.

Singkat cerita, saya bertekad untuk melanjutkan kuliah di bidang Komunikasi. Namun sayang, gayung tak bersambut. Mimpi saya untuk menjadi penulis tak didukung oleh ayah saya yang menginginkan saya untuk mewarisi usaha keluarganya. Ayah menginginkan saya untuk kuliah di Manajemen (yang mana saya sangat membencinya). Jika tidak, beliau mempersilahkan saya untuk membiaya kuliah saya sendiri.

Tak ada pilihan lain, akhirnya saya ‘terjerumus’ diterima kuliah di Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Unpad tahun 2006. Saya lega bisa lulus SPMB saat itu mengingat pass in grade Manajemen kedua tertinggi setelah Akuntansi di ilmu sosial, meskipun itu bukan di jurusan yang saya impikan. Yah, yang penting kuliah, pikir saya saat itu.

Satu tahun pertama kuliah menjadi momok mengerikan. Saya benar-benar tak menyukai hapalan. Saya tak bisa membedakan apa itu debit dan kredit. Nilai saya tertinggi di Matematika Bisnis namun kacau balau di mata kuliah akutansi. Saya menganggap manajemen adalah kuliah paling membosankan di dunia.

4 tahun berlalu dan saya bisa menyelesaikan kuliah saya dengan gelar cum laude. Tapi prestasi itu bukan karena saya benar-benar menguasainya, tetapi karena kebutuhan berprestasi bagi diri sendiri saja. Karena saya pikir, saya harus melakukan yang terbaik dari setiap apa yang saya kerjakan, terlepas dari saya menyukainya apa tidak.

Saya menyadari, sekeras apapun saya membenci jurusan kuliah ini, mungkin karena saya memiliki impian lain dan ketidaksukaan saya akan cara keras ayah saya menentukan pilihan hidup yang seharusnya menjadi hak saya, saya ternyata menikmati perjalanan 4 tahun saya kuliah.

Bertemu dengan teman-teman yang cerdas, dosen-dosen yang berwawasan luas. 4 tahun bukan waktu yang singkat untuk ‘mengubah’ pola pikir saya tentang dunia bisnis. Saya melihat ada begitu banyak peluang emas di dunia ini yang mungkin tidak akan saya ketahui jika saya tidak kuliah disini.

Bukan, bukan mata pelajarannya yang membuat saya menjadi jatuh cinta pada dunia bisnis. Bahkan mungkin saat ini saya hanya mampu mengingat 10% dari materi perkuliahan selama 4 tahun itu. Sisanya, 90% yang saya ingat adalah pemikiran-pemikiran hebat yang saya lihat dari orang-orang sekeliling saya. Lingkungan sosial di manajemen Unpad nyatanya secara hebat mampu mengasah insting wirausaha saya berkembang dan membludak dari waktu ke waktu.

Dan disinilah saya sekarang. Bergelut pada dunia bisnis yang nyatanya menjadi sangat saya cintai. Meski saya masih menyimpan baik-baik impian saya untuk jadi penulis, keputusan terbesar dalam hidup saya yang sangat saya syukuri adalah saat saya mengikuti apa yang menjadi harapan orangtua saya.
Menjadi wirausaha.

Lahir menjadi wirausaha bukan perkara sulit untuk dimulai, namun bukan hal yang mudah pula untuk dijalankan.

Dan menurut opini saya, ada 3 faktor penentu jiwa pengusaha bisa lahir sekaligus menjadi indikator seberapa abadi jiwa pengusaha tersebut hidup.

1. Passion

Passion menrupakan strata tertinggi yang dapat melahirkan seseorang menjadi pengusaha dan bersifat long life. Jika seseorang memang memiliki passion berbisbis sejak awal, ia akan cenderung menjadikan bisnis sebagai pilihan utama hidupnya, pilihan utama mata pencahariannya, bukan menjadikannya pilihan terakhir disaat semua kesempatan pekerjaan tertutup baginya.

Passion akan memberi kekuatan tak terhingga bagi seseorang untuk bertahan dalam keadaan terburuk sekalipun untuk menggapai impian seseorang. Seseorang yang memiliki passion bisnis, dia akan tetap berada di zona ini meski ia bukan lahir / besar di lingkungan pebisnis karena keinginan berbisnis timbul dari jiwanya, bahkan meskipun ia didera pailit. Ia akan sangat menekuni dan menyerahkan seluruh waktunya untuk mengembangkan bisnisnya dengan segala effort yang ia miliki.

Bahkan disaat usahanya lama berkembang ataupun belum cukup menghasilkan, ia tetap mencintai kegiatannya dan bertahan. Mencari celah untuk bisa bertumbuh besar dan liar. Inilah yang membuat orang-orang yang memiliki passion bisnis, dapat semakin kuat karena terpaan waktu.

Karena memang kenyataannya, passion dapat membuat seseorang rela dibayar rendah atau tidak sama sekali jika memang pekerjaan tersebut sesuai dengan passionnya. Dan jika saya bertanya pada diri saya, apa passion hidup saya, saya akan menjawal 2 hal, yaitu jurnalis dan berbisnis.

Bagi saya, passion utama saya tetap jurnalis. Itu yang membuat hingga saat ini saya tetap aktif menulis dan membuat konten video yang layak dinikmati semua orang karena kecintaan saya pada dunia jurnalis. Padahal, saya tidak (belum) mendapatkan bayaran dari kegiatan ini.

Sementara, saya tetap realistis untuk memikirkan bagaimana saya harus bertahan hidup dan bersyukur saya memilih ‘passion sampingan’ berupa bisnis yang nyata-nyatanya menjadi lumbung kehidupan utama saya saat ini.

Kenapa saya bilang ‘passion sampingan’ ? Ini karena saya menyadari bahwa saya terlahir menjadi pengusaha bukan karena murni saya memiliki passion bisnis, tetapi karena dorongan keluarga saya yang ‘menjerumuskan’ saya ke lingkungan bisnis. Yang memang lambat laun ternyata membuat saya takluk. Faktor lingkungan bisnis yang berisi orang-orang yang pola pikirnya, isi bicaranya, strategi hidupnya semua mengkiblat ke dunia usaha, membuat saya terlahir menjadi pengusaha karena faktor kedua, yaitu faktor lingkungan.

2. Faktor Lingkungan

Saya mengakui jika saya terlahir menjadi pengusaha karena faktor lingkungan. Bertahun-tahun mendengar teori manajemen, cara pengelolaan perusahaan, ratusan cerita orang-orang sukses dengan segala jatuh bangunnya, dan bertukar pikiran dengan orang-orang cerdas yang memiliki ketertarikan di bidang yang sama pada akhirnya mempengaruhi saya bahwa dunia bisnis adalah dunia yang paling menjanjikan untuk saya tekuni saat ini.

Saya mengamati rata-rata jika pasangan suami istri memiliki pekerjaan yang bagus atau sukses, maka mereka akan mengarahkan anak-anak mereka untuk memilih pekerjaan yang sama seperti mereka. Dengan harapan anak-anak mereka bisa mengikuti jejak kesuksesan mereka, bahkan melebihi mereka dengan bekal kiat-kiat pengalaman mereka.

Sering saya menemukan kisah sukses dokter muda yang memang terlahir dari pasangan suami istri yang dokter. Atau juga seorang anak yang memilih menjadi perwira karena ternyata memiliki latar belakang militer dari ayahnya. Anaknya yang mengikuti profesi ibu mereka menjadi seorang entertainer/musisi.

Selain memang karena faktor genetik yang menurunkan sifat atau bakat tertentu yang spesifik, lingkungan yang menjadi tumbuh kembang anak, yaitu keluarga, sekolah dan teman-teman menjadi faktor dominan yang menggiring minat seseorang menuju bidang tertentu. Mereka tanpa sadar menerima doktrin setiap hari tentang cara pandang tertentu hingga akhirnya menyukai dan menjadikannya passion hidup mereka.

Karena itulah, faktor lingkungan yang mendukung sangat mempengaruhi kelahiran jiwa-jiwa pengusaha. Meski pada awalnya bukan menjadi passion hidup mereka, jika setiap hari mereka bergaul dengan orang-orang yang berjiwa wirausaha, cepat atau lambat mereka akan ‘terkontaminasi’ dengan cara pikir pengusaha juga.

Jika kalian ingin memulai jadi pengusaha namun merasa masih meragukan passion bisnis kalian, dan kebetulan kalian pun bukan terlahir dari lingkungan pengusaha, maka segera temukanlah lingkungan tersebut. Hijrahlah ke tempat dimana pola pikir pengusaha lebih dominan.

Cara berhijrah yang paling mudah adalah bergabunglah dengan banyak forum bisnis yang sekarang banyak muncul di dunia online. Dari situ kalian akan menemukan banyak pengetahuan dan info tentang dunia usaha. Kalian juga akan menemukan kisah-kisah dan aneka tips sukses dari teman-teman kalian yang sanggup membakar semangat untuk memulai dan menjalani usaha.

Dengan hidup atau tinggal di lingkungan bisnis, maka jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap usaha kita, atau kita menemukan jalan buntu terhadap masalah usaha yang kita jalani, kita akan mudah menemukan bantuan dari orang-orang di sekeliling kita. Entah itu sekedar informasi, semangat, dukungan maupun bantuan real yang dapat membuat kita bertahan lama di dunia bisnis ini.

Jika kalian tahu manisnya hasil dari berbisnis, ingin sukses dari berbisnis, namun masih belum terlalu memiliki passion bisnis (entah karena takut meninggalkan pekerjaan lama, atau karena takut akan resikonya, atau mungkin juga karena tidak mendapat dukungan dari orang-orang terdekat), lalu kalian tidak ada upaya untuk berada di lingkungan sosial bisnis, percayalah bahwa kemungkinan pengusaha lahir di jiwa anda amat sangat tipis.

3. Faktor ketidaknyamanan

Dulu, saat saya bilang bahwa saya akan berdagang setelah saya lulus kuliah, ada teman saya yang berkomentar, “Kamu sekolah tinggi-tinggi dapet nilai bagus, sayang banget ujung-ujungnya malah dagang doang.

Dagang doang…

Saat itu virus estrepreneurship memang tidak seheboh saat ini. Menjadi pedagang, apalagi pedagang online benar-benar dipandang sebelah mata oleh para sarjana yang lulus kuliah. Bekerja di perbankan, perusahaan multinasional dan asing menjadi primadona dan tolak ukur ‘calon orang sukses’ saat itu diantara kami.

Dan saya, dengan IPK akhir 3,88 lebih memilih berdagang ketimbang melamar ke perusahaan-perusahaan itu. Berdagang seolah menjadi pilihan terakhir para generasi muda jika sudah tidak ada lagi perusahaan yang mau menerima mereka bekerja.

Saya diam saja saat itu. Saya berpikir ulang, mencari sebanyak mungkin alasan kenapa saya memilih berdagang daripada pekerjaan-pekerjaan bergengsi itu.

– Saya ingin penghasilan yang besar, bahkan tak terbatas, tapi apa kelebihan yang saya punya hingga perusahaan lain mau membayar saya dengan harga tinggi?
– Saya tidak suka disuruh-suruh orang, tapi gak mungkin perusahaan lain langsung menempatkan saya di posisi manajer dengan pengalaman kerja saya yang nol besar.
– Saya ingin memiliki rumah sendiri sebelum menikah, lalu pekerjaan seperti apa yang bisa memenuhi keinginan saya?
– Saya ingin bekerja secara bebas, bekerja dengan jam kerja semau saya, bekerja dari lokasi manapun yang saya inginkan, bebas dari rutinitas kemacetan panjang kota Bandung pagi dan sore hari, bebas memilih partner kerja saya, dan saya tahu tidak ada satupun perusahaan yang mau melayani keinginan saya sesempurna itu.

Dan jawaban satu-satunya adalah saya harus menjadi pedagang. Saya harus memulai semuanya dari tangan saya sendiri. Tidak mudah memang. Tidak bergengsi malahan. Saya sendiri tidak tahu ujung dari keputusan saya akan berakhir baik atau sebaliknya.

Tapi yang saya tahu, faktor ketidaknyamanan akan ‘ketidakbebasan’ dan keinginan saya yang selangit yang tidak akan cepat terpenuhi jika saya bekerja di perusahaan orang lain membuat saya berani mengambil RESIKO akan masa depan saya sendiri.

Karena jika seseorang sudah terdesak, sudah dalam keadaan terpaksa dan tidak nyaman, secara naluri otak akan berusaha mencari cara untuk keluar dari permasalahannya. Termasuk masalah ekonomi. Berdagang menjadi salah satu solusi terbaik untuk mencari penghasilan tambahan dewasa ini. Berdagang menjadi pilihan kedua atau sampingan saat pekerjaan utama seseorang dirasa belum mencukupi kebutuhan.

Bahkan banyak yang akhirnya keluar dari pekerjaan utamanya untuk fokus berdagang setelah merasakan bahwa penghasilannya dari berdagang bisa melebihi penghasilan saat berkerja. Meski awalnya berdagang menjadi pilihan terakhir dalam prioritas pekerjaannya, banyak juga pengusaha yang lahir dari faktor ketidaknyamanan ini karena akhirnya banting stir untuk memfokuskan waktunya menekuni lebih dalam.

Namun, faktor ketidaknyamanan menjadi faktor terlemah dalam lahirnya jiwa pengusaha. Karena jiwa pengusaha mereka tidak sekuat jiwa pengusaha yang memang lahir murni dari passion, ataupun terpelihara dalam lingkungan bisnis.

Keadaan menjadi rentan jika bisnisnya mengalami goncangan atau keterpurukan. Mereka akan cepat menyerah dan berbalik mencari pekerjaan di luar sana karena harapan mereka untuk keluar dari ketidaknyamanan bekerja tidak dapat diselesaikan dengan berwirausaha.

Karena itu, menurut opini saya jiwa pengusaha yang lahir dari ketidaknyamanan harus terus didukung oleh lingkungan sosial (keluarga, teman, pasangan hidup) yang memang memiliki aura wirausaha agar semangatnya terus terpompa. Beruntung jika dalam proses tersebut, pengusaha itu akhirnya menemukan passion bisnis yang akan membuat dia kuat dalam menjalani suka duka berwirausaha.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply