Penyebab, Gejala dan Cara Penanganan Dekompresi Akibat Penyelaman

ireztia

Tekanan udara saat kita menyelam mengharuskan kita menghirup udara lebih banyak dari biasanya. Udara yang kita hirup kebanyakan adalah oksigen dan nitrogen. Ketika kita menghirup udara lebih banyak gas nitrogen dalam tubuh akan terakumulasi seiring dengan lamanya  menyelam serta kedalaman  menyelam. Sebenarnya kelebihan nitrogen tersebut bisa dinetralisir tubuh sepanjang kita tidak menyelam terlalu lama, tidak terlalu dalam, dan naik perlahan-lahan sehabis menyelam. Namun, masalah terjadi bila kita naik dengan cepat dari kedalaman tertentu ke permukaan air.

Peningkatan tekanan juga akan berpengaruh terhadap peningkatan tekanan parsial gas-gas respirasi (oksigen dan nitrogen) sehingga kelarutan dalam jaringan tubuh akan meningkat. Peningkatan tekanan akan berpengaruh pada pembentukan gelembung gas dalam darah dan jaringan tubuh. Penyelam yang naik ke permukaan secara tiba-tiba menyebabkan perubahan efek fisiologi ini dengan cepat. Volume gas yang meningkat, keluarnya gelembung gas dan masuk (terperangkap) ke jaringan menyebabkan penyelam mengalami penyakit dekompresi.

Nitrogen yang sudah terakumulasi di dalam cairan tubuh penyelam akan dilepas dalam bentuk gelembung udara (buih) akibat dari penurunan tekanan secara drastis. Buih-buih inilah yang akan menyumbat aliran darah maupun sistem saraf tubuh manusia, sehingga ada penyelam yang pingsan, lumpuh permanen, bahkan meninggal.

Penyakit yang banyak dialami penyelam adalah dekompresi.  Dekompresi dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan medis dimana akumulasi nitrogen yang terlarut setelah menyelam membentuk gelembung udara yang menyumbat aliran darah serta system syaraf. Akibat dari kondisi tersebut maka timbul gejala yang mirip sekali dengan stroke, dimana akan timbul gejala-gejala seperti mati rasa (numbness), paralysis (kelumpuhan), bahkan kehilangan kesadaran yang bisa menyebabkan meninggal dunia.

Gejala-gejala dekompresi biasanya timbul sesaat setelah menyelam atau tertunda sampai maksimal 48 jam. Gejala dekompresi tidak mungkin terjadi setelah melewati 48 jam, karena dalam waktu tersebut tubuh sudah menetralisir akumulasi nitrogen.

Dalam waktu 48 jam tersebut, penyelam tidak boleh naik pesawat terbang, karena dekompresi masih bisa terjadi akibat perbedaan tekanan udara di permukaan laut dan di ketinggian jelajah pesawat terbang.

 

Teori Dasar Dekompresi

Hukum Fisika yang paling mendasari teori dekompresi adalah HUKUM HENRY, dimana hukum tersebut menyebutkan bahwa pada sebuah bejana yang berisi air dan udara, bila tekanan udara ditingkatkan maka akan terjadi pelarutan udara kedalam zat cair tersebut proporsi seiring dengan peningkatan tekanan udara. Saat tekanan dalam bejana tersebut sudah cukup tinggi, apabila tekanan udara dikurangi secara perlahan-lahan, maka gas yang terlarut akan dibebaskan secara perlahan kembali ke udara tanpa membentuk gelembung udara. Lain halnya bila tekanan tersebut dikurangi secara cepat, maka udara yang terlarut didalam zat cair akan dibebaskan secara cepat pula, dan membentuk gelembung udara seperti air mendidih (boiling water).

Teori lainnya yang mendukung teori dekompresi adalah HUKUM BOYLE, yang menyebutkan bahwa semakin tinggi tekanan udara, maka kepadatan molekul udara akan semakin padat pada volume yang sama. Contoh, jika dipermukaan air kita ada sebuah balon yang berukuran 1 Liter berisi satu juta molekul gas, maka pada kedalaman 30 meter, 1 Liter balon gas tersebut akan akan berisi 4 juta molekul gas. Hal ini berarti bahwa semakin dalam kita menyelam maka kita menghirup lebih banyak molekul gas ketimbang saat kita tidak menyelam.

Penyebab Dekompresi :

  1. Kelalaian menggunakan tabel penyelaman atau tidak memperhatikan tabel pada waktu penyelaman, seperti batas kedalaman dan waktu penyelaman.
  1. Tidak mengatur fungsi kerja (setting) dan prosedur menggunakan dive computer secara baik, termasuk bagaimana menggunakan dan memelihara dive computer secara berkala.
  2. Tidak melakukan prosedur dan profil penyelaman yang aman, misalnya melakukan penyelaman multi level (sering naik turun, naik terlalu cepat dan sebagainya).

Gejala-gejala penyakit dekompresi

Gejala-gejala penyakit dekompresi dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

Tipe I Penyakit dekompresi

Tipe I Penyakit dekompresi adalah bentuk paling serius Penyakit dekompresi. Ini biasanya melibatkan rasa sakit hanya dalam tubuh dan tidak segera mengancam kehidupan. Penting untuk dicatat bahwa gejala Tipe I Penyakit dekompresi mungkin peringatan tanda-tanda masalah yang lebih serius. Teridiri dari penyakit Dekompresi Cutaneous dan Joint and Limb Pain Decompression Sickness. Penyakit Dekompresi Cutaneous Ini adalah ketika gelembung nitrogen keluar dari solusi di kulit kapiler . Hal ini biasanya menghasilkan ruam merah, sering pada bahu dan dada.
sedangkan Joint and Limb Pain Decompression Sickness ditandai dengan nyeri pada sendi. Tidak diketahui persis apa yang menyebabkan rasa sakit sebagai gelembung dalam sendi tidak akan memiliki efek ini. Teori umum adalah bahwa hal itu disebabkan oleh sumsum tulang gelembung menjengkelkan, tendon, dan sendi. Rasa sakit dapat berada di satu tempat atau dapat bergerak di sekitar sendi. Hal ini tidak biasa untuk gejala bisymmetrical terjadi.

Tipe II dekompresi Penyakit

Tipe Penyakit dekompresi II adalah yang paling serius dan dapat segera mengancam jiwa. Efek utama adalah pada sistem saraf. Teridiri dari Penyakit Dekompresi Neurologis, Paru dan Cerebral.

Penyakit Dekompresi Neurologis terjadi ketika gelembung nitrogen mempengaruhi sistem saraf mereka dapat menyebabkan masalah di seluruh tubuh. Jenis Penyakit dekompresi biasanya menunjukkan sebagai kesemutan, mati rasa, gangguan pernapasan, dan ketidaksadaran. Gejala dapat menyebar dengan cepat dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan kelumpuhan atau bahkan kematian.

Penyakit Dekompresi Paru adalah suatu bentuk yang jarang dari Penyakit dekompresi yang terjadi ketika gelembung terbentuk di paru-paru kapiler. Untungnya, sebagian besar gelembung waktu melarutkan secara alami melalui paru-paru. Namun, adalah mungkin bagi mereka untuk mengganggu aliran darah ke paru-paru yang dapat menyebabkan pernapasan serius dan mengancam nyawa dan masalah jantung.

Sedangkan Penyakit Dekompresi Cerebral dimungkinkan untuk gelembung yang membuat jalan mereka ke dalam aliran darah arteri untuk pindah ke otak dan menyebabkan emboli gas arterial . Ini sangat berbahaya dan dapat diidentifikasi dengan gejala seperti penglihatan kabur, sakit kepala, kebingungan, dan ketidaksadaran.

Pertolongan pada Dekompresi

Jika penyakit dekompresi terjadi maka seorang penyelam harus diberikan oksigen murni (100%) pada penyelam yang menunjukan gejala dekompresi sehabis menyelam, hubungi Rumah Sakit yang memiliki fasilitas Hyperbarik (Recompression Chamber). Segera evakuasi penyelam yang terkena dekompresi kefasilitas hyperbarik terdekat. Dan baringkan pasien pada posisi dalam miring ke arah kiri (manuver Durant) dan posisi Trendelenburg ringan (tidur dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala).

Gejala-gejala Dekompresi tidak akan membaik sampai penyelam mendapatkan terapi hiperbarik. Didalam Recompression chamber (Hyperbarik), Penyelam akan dimasukan kedalam tabung besar, dimana tekanan udara akan ditingkatkan kembali seperti sewaktu kita menyelam. Dengan demikian buih-buih nitrogen yang menyumbat didalam aliran darah akan kembali melarut didalam darah, dan di netralisir secara alamiah oleh tubuh melalui proses pernafasan.

Angka kesembuhan dari penyakit dekompresi tipe 2 bila ditangani dengan tepat, dapat terlihat sampai 75 % dari seluruh kasus, sisanya dapat menjadi gejala menetap sampai 3 bulan.

Penurunan keberhasilan pengobatan dapat terjadi jika pengobatan definif (dengan oksigen hiperbarik dalam chamber) tertunda lebih dari 12 jam (penurunan angka keberhasilan dari 75 % menjadi 57 %), walaupun tetap dianjurkan mengingat hasil yang mungkin masih didapat. Pengobatan tambahan dapat berupa pemberian obat simptomatik pereda nyeri (golongan NSAID), anti koagulan, dan glukokortikoid.

 

Tips Menghindari penyakit dekompresi

Langkah-langkah yang harus diketahui untuk dapat menghindari penyakit dekompresi yaitu:

  1. Rencana penyelaman

Perencanaan penyelaman adalah bagian paling penting saat ini. Gunakan tabel penyelaman untuk merencanakan kedalaman dan waktu di bawah air. Tetap dalam batas-batas penyelaman sesuai prosedur  akan mengurangi risiko penyakit dekompresi.

 

  1. Menggunakan peralatan yang tepat

Menggunakan komputer menyelam adalah cara paling sederhana untuk menghitung waktu dan eksposur nitrogen. Menggunakan tabel penyelaman  di perahu dan kemudian timer yang baik juga akan membiarkan penyelam tahu berapa banyak waktu penyelam yang telah dihabiskan di bawah air. Sebuah alat pengukur kedalaman sangat penting.

 

  1. Sering memeriksa alat pengukur

Sangat penting untuk terus mengawasi kedalaman penyelaman, suplai udara dan waktu. Nomor satu penyebab kecelakaan saat menyelam adalah orang-orang tidak memeriksa meteran mereka.

 

  1. Menentukan batas-batas penyelaman

Batas-batas diving rekreasi yang ada untuk alasan tertentu. Pastikan tidak melebihi kedalaman maksimum 135 meter.

 

  1. Naik ke permukaan secara perlahan-lahan

Ketika mendaki, melakukannya perlahan-lahan. Mengawasi komputer untuk menilai penyelaman, atau jika tidak mempunyai komputer, tidak naik lebih cepat dari 10 meter per 10detik.

Diving termasuk olahraga yang sangat berbahaya karena setiap gerakannya ada resiko. Untuk itu kita perlu melakukan semuanya dengan benar dan selalu waspada.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply