Mengenali Perbedaan Scuba Diving vs Free Diving, Pilih Mana ??

ireztia

Apa itu diving? Hampir semua orang pasti sudah mengetahui apa itu diving/ menyelam karena sekarang ini sudah menjadi hobby sebagian orang mengingat di Indonesia sendiri sangat banyak spot indah untuk memanjakan mata dengan olahraga bawah air ini.

Menyelam merupakan aktivitas yang mulai digemari oleh banyak orang, hal yang menjadi daya tarik utama menyelam tentunya ialah menyaksikan kehidupan bawah air secara langsung. Apalagi Indonesia diberkahi surga bawah laut yang tak ternilai harganya. Namun sebelum menyelaminya lebih jauh, kenali dulu yuk berbagai cara menyelam seperti Free Diving dan Scuba Diving.

Scuba sendiri merupakan kependekan dari Self Contained Underwater Breathing Apparatus yang berarti menyelam dengan peralatan oksigen. Diving jenis ini membutuhkan banyak peralatan antara lain baju selam, sepatu katak, masker kacamata, jaket penyangga oksigen, tabung oksigen, regulator, dan pemberat badan. Semua alat-alat tersebut memiliki ukurannya masing-masing. Kamu harus memastikan mendapat ukuran yang sesuai dengan tubuh kamu.

Pada scuba diving kita bernafas melalui selang.  Karena bernafas melalui selang, kamu  harus bisa belajar mengaplikasikannya dan memastikan selang itu tidak terlepas saat di bawah air. Kalaupun terlepas, pastikan kamu sudah mengetahui bagaimana cara menyiasatinya.

Ada 2 tombol di selang lainnya. Selang tersebut terhubung dari tabung oksigen ke jaket penyangga. Gunanya untuk mengangkat atau membawa Anda ke dalam laut, tergantung keinginan dan tombol yang ditekan. Jumlah oksigen yang tersedia di dalam sebuah tabung pun beragam, ada yang bisa digunakan dalam waktu 30 menit hingga 2 jam di dalam air.

Melakukan scuba diving berarti berada lama di dalam air. Penjelajahan alam bawah laut pun akan semakin jauh, dalam dan asyik. Kamu harus memperhatikan keadaan sekitar kamu ya jangan terlalu asyik nanti bisa saja kamu terbawa arus. Kamu juga harus bernafas dengan tenang agar oksigen yang kamu miliki dimanfaatkan dengan baik.

Berbeda dengan scuba diving yang menggunakan banyak alat, jauh sebelum ada alam scuba sudah dikenal free diving yang berate tanpa alat scuba. Free diving tidak menggunakan banyak alat kecuali masker dan fins. Teknik menyelam seperti ini mengutamakan kekuatan paru-paru dan berapa lama kamu bisa menahan nafas di bawah air.

Kamu harus pintar mengatur oksigen yang ada di paru-paru. Jangan tunggu oksigen habis baru naik ke permukaan, namun jangan terlalu cepat naik jika masih merasa ada cukup oksigen di paru-paru. Biasakan diri untuk berada di kedalaman, semakin dalam, tekanan akan semakin kuat, biasakan dengan hal itu.

Para peserta free diving akan diikat dengan sebuah tali tambang guna mencegah mereka tidak menyelam terlalu jauh. Tak hanya itu, adanya tambang itu juga membantu para penyelam untuk tidak menyentuh atau menginjak karang. Sebab, panjang tambang yang digunakan selalu lebih pendek dibanding kedalaman menyelam.

Sementara untuk kedalaman selam, terdapat beberapa tahapan sesuai dengan kemampuan penyelam. Bagi pemula, kedalaman maksimum adalah 20 meter, tidak lebih. Sementara untuk tahap selanjutnya bisa 30 meter hingga 40 meter maksimum. Durasi penyelaman pun juga berbeda-beda.

Sebelum melakukan free diving diwajibkan untuk mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Pelatihan ini guna melatih pernapasan saat akan menyelam tanpa bantuan tabung oksigen. Selain itu, peserta free diving juga harus memiliki kemampuan untuk berenang. Saat  menyelam dengan scuba diving akan terdengar suara napas dan muncul gelembung-gelembung udara. Namun, ketika free diving yang didengar hanya kesunyian, tidak ada bunyi dari alat bantu pernapasan, dan penyelam juga bisa mendengar suara karang.

Freediving mengeksploitasi semua refleks yang kita miliki. Menyelam ke tempat yang dalam sangat mungkin dilakukan, hal itu disebabkan oleh refleks menyelam mamalia yang dimiliki oleh semua mamalia dengan tingkatan yang bervariasi. Ada beberapa perubahan luar biasa yang bisa terjadi ketika refleks tersebut dimulai.

Bradycardia, Melambatnya denyut jantung, hal tersebut dapat dimulai setelah air dingin menyentuh wajah. Denyut jantung seorang manusia dapat dikurangi hingga 25%. Denyut jantung terendah seorang freediver yang pernah terekam adalah 14 denyut per menit, atau kurang dari sepertiga detak jantung rata-rata pasien yang berada dalam keadaan koma. Kemampuan mengapung seorang penyelam akan berbalik membawa mereka turun.

Mungkin terdengar sedikit aneh. Jika kita terombang-ambing atau terapung di permukaan saat kita berada di laut, berarti kita bertipe Positive (+), hal itu dikarenakan tubuh kita tidak lebih padat dari air di sekitar kita. Tetapi apabila kita turun cukup jauh ke bawah, tubuh kita akan menjadi lebih padat karena tekanan disekitar kita meningkat dan menekan tubuh kita antara 7-12 Meter dibawah permukaan laut, kita akan berada dalam titik netral dimana kita tidak lagi merasa seperti sedang didorong atau diangkat ke permukaan.

Lewatilah batas tak terlihat tersebut dan kalian akan berubah menjadi tipe negative (-) dan mulai tenggelam. Hal tersebutlah yang membuat para freediver dapat meluncur turun sampai batas kedalaman yang mereka inginkan dan pemburu ikan serta mutiara dapat berjalan di dasar laut. Pada kedalaman ini, tipe negative ini akan membuat kita berjalan di atas dasar laut seperti sedang berjalan di permukaan Bulan.

Freedivers tidak mendapatkan sakit seperti yang didapatkan oleh scubadivers. Meskipun mampu mencapai kedalaman yang jauh lebih dalam dari yang bisa dilakukan oleh Scuba Divers. Freediver umumnya tidak mendapatkan penyakit dekompresi. Penderitaan mengerikan tersebut umumnya terjadi ketika scuba diver tidak bisa mengurangi tekanan udara dalam tubuhnya dengan cukup sebelum mereka dapat kembali ke permukaan.

Freediver tidak menderita resiko ini karena mereka hanya mengambil satu tarikan nafas di permukaan dan menghabiskan hanya beberapa menit di bawah air. Saat freediver turun memang paru-paru mereka terkompresi namun mengembang kembali ketika naik. Dalam kondisi yang singkat tersebut maka tidak ada waktu cukup bagi nitrogen untuk menyatu dalam darah karena nitrogen langsung terlepas saat freediver sampai di permukaan.

Namun, bukannya tidak mungkin freediver terkena penyakit Dekompresi. Freediver tetap mungkin terkena penyakit dekompresi hanya saja kecil kemungkinannya. Penyakit dekompresi bisa saja menyerang freediver yang melakukan penyelaman beberapa kali dalam sehari seperti nelayan.

Mereka bisa menderita dekompresi yang disebabkan oleh lamanya waktu mereka menyelam dan tekanan yang mereka dapat. Dan freediver dalam kategori No Limit juga berpotensi menderita penyakit ini karena mereka menggunakan alat bantu untuk turun mencapai kedalaman yang mereka inginkan. Alat bantu tersebut akan membawa mereka turun dua kali lebih dalam dan lebih cepat dari penyelam lainnya. Mereka juga menggunakan balon untuk membantu mereka kembali ke atas. Ini bisa jadi terlalu cepat bagi tubuh untuk melepaskan nitrogen.

Intinya dalam melakukan kegiatan diving baik itu free diving maupun scuba diving kita harus tetap berhati-hati dan bisa menjaga agar diri kita selalu dalam posisi yang aman.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply