Ayo Mengenal Suku Bajo Lebih Dekat !!

ireztia

Asal-usul suku Bajo sesungguhnya dari pulau Sulawesi. Selain menguasai bahasa daerah setempat, mereka juga berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Bajo, serumpun dengan bahasa Bugis–Sulawesi Selatan. Di mana dua atau tiga warga Bajo berkumpul, mereka diwajibkan menggunakan bahasa Bajo. Kecuali kalau berada di antara atau bersama warga penduduk setempat. Mereka adalah orang pelaut yang tidak bisa hidup di gunung. Bajo, identik dengan air laut, perahu, dan permukiman dia atas air laut. Bajo artinya men­dayung perahu dengan alat yang disebut Bajo.

Agama Islam menjadi pilihan satu-satunya bagi seluruh warga Bajo. Bukan suku Bajo kalau tidak beragama Islam dan telah diwariskan turun-temurun. Meski ratusan tahun warga Bajo tinggal di antara penduduk Kristen, mereka tetap menjaga identitas diri mereka sebagai orang yang taat sholat lima waktu dan berpegang tegung pada keyakinan yang diwariskan kepada mereka sejak nenek-moyangnya.

Suku Bajo juga terkenal sangat menghormati adat istiadat masyarakat setempat dan selalu menjaga kerukunan bersama. Kebersamaan dan persatuan di antara warga suku Bajo sangat kuat. Mereka mampu bertahan di bidang ekonomi, social dan budaya karena persatuan dan kesatuan yang dibangun di antara mereka.

Wuring, Perkampungan Nelayan

Wuring dikenal sebagai tempat tinggal masyarakat Bajo yang berprofesi sebagai nelayan. Dimana Wuring masuk dalam Kabupaten Sikka yang berjarak kurang lebih 2 km dari Kota Maumere. Sama dengan cerita suku Bajo yang lainnya, ada komunitas suku Bajo yang akhirnya menetap di Maumere. Mereka akhirnya membangun komunitas dan perkampungan nelayan di Maumere.

Mengenal suku Bajo di Wuring seperti mengenal suku Bugis kebanyakan. Wuring menjadi salah satu daerah wisata bagi wisatawan luar negeri. Jangan kaget jika Anda sering melihat bule yang datang dan pergi di daerah ini. Mereka tertarik dengan komunitas nelayan di Maumere. Selain komunitas nelayan, di Wuring juga ada pelabuhan tersibuk di Kabupaten Sikka. Karena setiap harinya ada kegiatan bongkar muat barang dari kapal-kapal yang datang dari Makasaar.

Hampir semua suku Bajo di Wuring menggantungkan hidupnya di laut. Karena itulah mayoritas masyarakat di Wuring berprofesi sebagai nelayan. Saat ini banyak nelayan yang berfokus untuk mencari ikan tuna, penangkapan ikan tuna mulai menjadi trend di tahun 2002. Karena ikan tuna merupakan produk ikan yang paling menjanjikan di antara semua jenis ikan lainnya. Sebelum ikan tuna menjadi trend penangkapan, nelayan disini masih menggunakan bom dan bius untuk menangkap ikan.

Orang Bajo mempercayai bahwa laut itu memiliki “penghuni”, mereka menyebutnya “hantu laut”. Sehingga dulu ada cara-cara yang mereka lakukan sebelum turun ke laut. Namun lama kelamaan proses tersebut sudah mereka tinggalkan. Selain itu hal menarik lainnya adalah perempuan di Wuring dikenal sebagai perempuan perkasa. Mereka mampu mencari nafkah sendiri bagi keluarganya. Pemandangan yang lumrah ketika sore hari, perempuan-perempuan Wuring sedang berjualan ikan di pasar. Mereka yang bertugas menjual ikan hasil tangkapan suaminya. Jadi ada sebuah pembagian porsi kerja di dalam keluarga. Setelah suami mencari ikan, sang istri akan menjual hasil tangkapan suami di pasar. Sang suami akan menjaga anak-anak mereka ketika istri sedang menjual ikan. Sebuah ikatan kuat dan saling mendukung.

Kerjaan ini mereka lakoni agar ada pemasukan tambahan bagi keluarganya. Karena selama ini hanya ikan tuna yang langsung laku dijual. Ada pembeli dari luar Wuring atau biasa disebut Papalele (laki-laki) dan Mamalele jika perempuan. Biasanya papalele dan mamalele membeli ikan tuna (bengkunis) dan cakalang saja. Karena kedua jenis ikan tersebut yang memiliki harga tinggi di pasar lokal.

Mereka pelaut tertangguh di Nusantara. Berabad-abad mengarungi samudera, mereka tersebar di wilayah Segitiga Terumbu Karang di Asia Tenggara, menghuni perairan tepi pantai dengan rumah berfondasi batu dan material kayu.

Mereka adalah Orang Bajo atau kerap juga disebut “Orang Laut”, “Sama Bajau” atau “Gipsi Laut”. Suku yang bersetubuh dengan laut sejak dulu itu kini tersebar di timur Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Filipina bagian selatan.

Pada Suku Bajo, dikenal empat kelompok masyarakat yang didasarkan pada karakteristik mereka dalam kaitannya dengan aktifitas mereka di lautan. Empat kelompok masyarakat ini dikenal dengan sebutan sebagai berikut;

  1. Kelompok Lilibu; yakni Suku Bajo yang biasanya mengarungi lautan hanya satu dua hari untuk mencari ikan dan jarak melautnya pun tidak terlalu jauh. Setelah ikan didapat, kelompok ini biasanya segera ‘pulang’ untuk bertemu keluarganya. Perahu yang digunakan oleh kelompok ini biasanya berukuran kecil yang bernama soppe dan dikendalikan menggunakan dayung.
  2. Kelompok Papongka; yakni Suku Bajo yang bisa dikenali dengan aktifitas melautnya yang hanya seminggu dua minggu saja untuk mencari ikan. Perahu yang digunakan oleh kelompok ini hampir sama dengan kelompok Lilibu. Hanya saja, berbeda dengan kelompok Lilibu, jarak tempuh mereka bisa lebih jauh dan keluar pulau. Bila dirasa telah memperoleh hasil atau kehabisan air bersih, mereka akan menyinggahi pulau-pulau terdekat. Setelah menjual ikan-ikan tangkapan dan mendapat air bersih, mereka pun kembali ke laut.
  3. Kelompok Sakai; yakni Suku Bajo yang memiliki kebiasaan mencari ikan yang wilayah kerjanya jauh lebih luas. Bila kelompok Papongka hitungannya hanya keluar pulau, maka kelompok Sakai hitungannya sudah antar pulau. Sehingga, waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. Mereka bisa berada di “tempat kerja”nya itu selama sebulan atau dua bulan. Karena itu, perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin.
  4. Kelompok Lame; yakni Suku Bajo yang bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih modern. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. Karena, mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Dan, mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan.

 

Kepercayaan dan Adat Istiadat Suku Bajo

Meskipun Suku bajo beragama Islam, namun mereka masih hidup dalam dimensi leluhur. Budaya mantera-mantera, sesajen serta kepercayaan roh jahat masih mendominasi kehidupan mereka. Peran dukun masih sangat dominan untuk menyembuhkan penyakit serta untuk menolak bala atau memberikan ilmu ilmu. Orang Bajo sangat mempercayai setan-setan yang berada di lingkungan sekitarnya. Rumah dan dapur-dapur mereka. Mereka percaya pantangan-pantangan dan larangan, seperti misalnya larangan meminta kepada tetangga seperti minyak tanah, garam, air atau apapun setelah magrib. Mereka juga percaya dengan upacara tebus jiwa. Melempar sesajen ayam ke laut. Artinya kehidupan pasangan itu telah dipindahkan ke binatang sesaji. Ini misalnya dilakukan oleh pemuda yang ingin menikahi perempuan yang lebih tinggi status sosialnya. Masyarakat Suku Bajo menyebut rumah palemana atau rumah di atas perahu. Karena masyarakat Suku Bajo bermukim dan mencari nafkah diatas laut. Karena itulah mereka mendapat julukan sebagai manusia perahu.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply