Melahirkan Normal VS Operasi Caesar, Lebih Baik Yang Mana ?? (part 2)

ireztia

Baca : Melahirkan Normal VS Operasi Caesar, Lebih Baik Yang Mana ?? (part 1)

Mengapa Harus Bersalin Caesar?

Jenis operasi besar yang satu ini bukan tanpa alasan untuk dipilih.  Data survei yang dikutip dari sebuah buku kehamilan oleh Nadia Mulya menunjukkan bahwa 394 responden memilih caesar karena beragam alasan.  Sebanyak 83.5% di antaranya mengaku harus bersalin caesar karena keputusan dokter (komplikasi medis).

Memang, persalinan caesar sebaiknya hanya dilakukan bila ada indikasi medis yang mengancam keselamatan ibu dan bayi– yang bahkan baru diketahui di detik-detik menjelang kelahiran.  Indikasi-indikasi seperti minimnya cairan ketuban yang tersisa,  bayi berada dalam posisi sungsang atau melintang, kondisi placenta previa (posisi plasenta berada di bawah rahim sehingga menghambat jalan lahir), pre-eklamsia menjelang kelahiran, salah satu janin pada kehamilan kembar meninggal, panggul sempit sementara bobot bayi terlalu besar, dan infeksi penyakit menular  sering terjadi pada kasus persalinan caesar.

Namun, bukan berarti semua indikasi medis wajib melalui caesar.  Ini tentunya sangat berkaitan dengan edukasi para dokter yang menangani kontrol kehamilan dan persalinan si ibu.  Karenanya, Ibu harus lebih cermat dalam memilih ahli medis yang menangani kehamilan berikut persalinannya kelak.

Sebanyak 10% responden lainnya beralasan memilih caesar karena kehamilan sebelumnya juga melalui cara yang sama.  Sementara responden sisanya, memilih karena tidak ingin merasakan nyeri hebat persalinan dengan proses yang relatif cepat, faktor estetika (tidak ingin elastisitas vagina berubah), bisa menentukan tanggal kelahiran bayi, dan rekomendasi kerabat.

Saat-saat Persalinan Caesar

Proses persalinan secara caesar dimulai dengan mencukur rambut di bagian bawah garis kemaluan dan Ibu akan diberikan suntikan epidural.  Lalu, cairan infus disuntikkan ke pembuluh vena.  Ibu juga akan diberikan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi.  Detak jantung dan tekanan darah juga selalu dipantau lewat monitor khusus selama jalannya operasi dan kateter juga dipasang untuk mengosongkan kandung kemih selama operasi berlangsung.

Setelah Ibu berada dibawah pengaruh obat bius, barulah tindakan penyayatan dilakukan.  Keseluruhan proses dapat berlangsung selama 30 hingga 45 menit dan bayi Ibu lahir di lima atau sepuluh menit pertama.

Kekurangan Persalinan Caesar

Bila Ibu bersalin secara caesar, maka ada beberapa hal ketidaknyamanan yang kelak dirasakan meski operasi dijalankan sesuai standar operasionalnya.  Beberapa hari pertama pascapersalinan, akan timbul rasa nyeri hebat yang kadarnya dapat berbeda-beda pada setiap Ibu.  Proses pemulihan cenderung berlangsung lebih lama, sehingga Ibu harus menjalani waktu rawat inap yang lebih lama ketimbang persalinan normal.

Efek obat biusnya dapat membuat bayi cepat mengantuk, sulit saat harus mulai bernapas saat dilahirkan, sembelit, dan masuk angin.  Sementara cara penyuntikkan obat bius di tulang punggung dapat membuat Ibu sering merasakan kesemutan dan rasa pusing cukup hebat di kemudian hari.  Operasi besar ini menimbulkan trauma operasi, seperti terjadinya risiko perdarahan dua kali lebih besar ketimbang persalinan normal dan juga risiko kerusakan kandung kemih.  Tentu saja biaya persalinan caesar akan jauh lebih mahal.

Kekurangan-kekurangan dari melahirkan secara Caesar di antaranya :

  1. Operasi   Caesar   mengakibatkan   besarnya kemungkinan akan kehilangan banyak darah. Selain itu, ada juga kemungkinan terjadinya penggumpalan darah.
  2. Operasi Caesar juga dapat meningkatkan risiko infeksi dikarenakan cedera pada usus besar atau kantung kemih. Beberapa studi menyatakan bahwa wanita yang melahirkan secara Caesar kecil kemungkinan untuk langsung bisa memberikan ASI eksklusif kepada bayi. Pemulihan setelah operasi dapat memakan waktu sampai 2 bulan. Hal ini diakibatkan karena wanita tersebut mungkin mengalami sakit yang lebih besar di perut di area sekitar luka operasi.
  3. Menurut French Study, wanita yang melahirkan secara Caesar memiliki kemungkinan meninggal tiga kali lebih besar daripada wanita yang melahirkan secara normal dikarenakan perdarahan, infeksi, dan komplikasi karena anestesi. Risiko keguguran saat proses kelahiran melalui operasi caesar juga lebih besar dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan secara normal.
  4. Wanita yang telah menjalani operasi Caesar memiliki risiko akan mengalami komplikasi di kehamilan selanjutnya, seperti robeknya uterus yang dikarenakan luka akibat operasi di  uterus dan abnormalnya plasenta. Risiko masalah plasenta akan terus bertambah di setiap operasi Caesar yang dijalani. Bila si ibu sudah mendapat tindakan operasi Caesar, maka besar kemungkinan bahwa di proses persalinan selanjutnya, si ibu harus kembali melewati operasi Caesar. Metode persalinan yang dilakukan ibu akan mempengaruhi kesehatan bayi bahkan sampai si kecil berusia 7 tahun.
  5. Selama proses melahirkan secara normal, banyak otot yang terlibat untuk memompa keluar cairan  yang  berada  di  paru-paru si  bayi.  Hal  ini  mengakibatkan si  bayi  akan  memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami masalah pada pernapasan.
  6. Ketika masih berada di dalam rahim ibu, si bayi tinggal dalam kondisi yang steril. Hal itu berbanding terbalik ketika si bayi dalam proses dilahirkan, di mana bayi akan melewati vagina sang ibu yang penuh dengan bakteri. Hal ini mengakibatkan bayi dapat membangun sistem imunitas dari bakteri yang didapat dan memperkaya bakteri yang berguna yang terdapat di dalam pencernaan si bayi.

Kelebihan persalinan caesar

Bila indikasi medis membuat persalinan normal menjadi berisiko tinggi, persalinan caesar tentu saja menjadi cara teraman.  Ibu yang memilih dibius secara lokal dapat melahirkan secara sadar, sehingga bisa segera menyusui si bayi dengan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) segera setelah operasi.  Selain itu, karena tidak ada proses mengejan, risiko meregangnya otot-otot dasar panggul dan vagina menjadi berkurang.  Proses persalinan dengan cara ini relatif singkat membutuhkan waktu kurang dari satu jam.

Namun, hal-hal yang “menggiurkan” tersebut tidaklah sepenuhnya benar atau memiliki resiko tersendiri. Berikut penjelasannya:

  • Memilih tanggal melahirkan. Resiko dari memilih tanggal melahirkan adalah bisa saja bayi tersebut belum saatnya lahir alias prematur atau bayi kelebihan bulan. Ibu mungkin sudah mengetahui resiko bayi lahir prematur, dimulai dari mendapat permasalahan pernafasan, bayi cenderung memiliki masalah mental dan rentan terhadap masalah kesehatan lainnya.
  • Begitu juga dengan melahirkan pada kondisi kelebihan bulan bayi juga akan mengalami masalah pernafasan, bayi akan mengalami kekurangn oksigen, bayi beresiko cacat. Sedangkan pada persalinan normal, kita tidak bisa menentukan kapan baiknya kita harus melahirkan, karena memang secara alami kontraksi terjadi yang menandakan bahwa kehamilan telah cukup umur untuk melahirkan. Namun hal tersebut ada baiknya karena menghindarkan bayi terlahir dengan prematur.
  • Melahirkan Cesar tidak merusak organ intim wanita. Memang betul, karena caesar melalui perut. Tapi ingat, bekas sayatan dan jahitan akan membekas pada perut ibu yang tentunya akan mengurangi keindahan perut ibu. Apalagi di tambah dengan adanya keloid. Memang ada yang tanpa bekas, tapi biayanya? Sedangkan pada persalinan normal, memang betul organ kewanitaan mengalami “gangguan” berupa berkembang membesar saat proses persalinan hingga sampai perlu “disobek” dan dijahit juga. Namun, jangan khawatir ibu, setelah 40 hari rahim dan organ intim wanita akan kembali ke bentuk semula, sekali lagi akan kembali ke bentuk semula, apalagi jika dibantu dengan senam kegel.
  • Sebetulnya organ intim wanita atau “miss v” itu sifatnya elastis, sebetulnya tidak hanya saat melahirkan, saat terangsang pun “miss v” bahkan bisa mengembang hingga dua kali lipat, dan akan kembali ke bentuk semula jika sudah tidak terangsang. Jadi, jangan khawatir persalinan normal hanya sementara “mengganggu” miss v, selanjutnya akan kembali normal.
  • Melahirkan cesar tidak sakit. Sebetulnya ini anggapan yang salah kaprah. Memang betul saat proses cesar ibu tidak akan mengalami rasa sakit karena anestesi (bius), namun sesudahnya efek anestesi hilang, ibu akan merasakan rasa sakit pada luka bekas sayatan. Bahkan rasa sakit ini bisa berkepanjangan hingga memerlukan perawatan yang lebih lanjut yang membuat ibu melahirkan caesar perlu rawat inap beberapa hari lagi. Bekas jahitan juga akan menimbulkan rasa sakit, bahkan sakit pada tulang belakang tempat dilakukan suntik anestesi lokal. Jadi ternyata cukup beragam sakit yang dirasakan setelah operasi caesar.
  • Sedangkan pada persalinan normal, rasa sakit hanya terjadi saat proses persalinan, bahkan banyak ibu-ibu yang sudah tidak merasakan rasa sakit esok harinya bahkan sudah bisa berjalan-jalan. Dan sekarang banyak metode persalinan normal yang meminimliasir rasa sakit seperti hypnobirthing, waterbirth, dll
  • Persalinan dengan Caesar tidak membuat ibu cape karena tidak ada proses mengejan pada diri ibu. Memang betul adanya, ibu yang melahirkan dengan caesar tidak ada yang namanya proses mengejan, namun di bawah sadar ibu, tubuh ibu sebetulnya sangat merasa kecapean, Dimulai dari suntikan anestesi lokal ke tulang belakang ibu, adanya sayatan, adanya jahitan, mual muntah akibat efek anestesi, faktor biaya yang mebuat pikiran menjadi pening juga, pemulihan yang lebih lama yang semuanya itu tentu membuat ibu lebih cape jadinya.

Tips Setelah Menjalani Operasi Caesar

Seorang wanita yang melahirkan secara normal akan merasakan sakit pada saat proses persalinan saja. Namun setelah beberapa jam dari proses persalinan, dia sudah mampu berinteraksi dengan keluarga dan sudah bisa kembali melakukan rutinitas dalam waktu beberapa hari.

Namun, hal itu tidak bisa dirasakan oleh mereka yang memilih operasi caesar. Saat persalinan mereka tidak akan merasakan sakit. Tapi rasa sakit itu akan dirasakan setelahnya. Mereka juga tidak bisa beraktivitas seperti biasa selama masa pemulihan sekitar empat hingga enam minggu.

Berikut ini adalah hal-hal penting yang harus Anda ketahui usai menjalani operasi caesar.

  • Hindari aktivitas berat seperti naik sepeda, lari, angkat beban, aerobik, sit-up dan olahraga lainnya selama enam minggu hingga mendapatkan persetujuan dari dokter.
  • Usai operasi caesar, Anda akan merasakan sakit ketika berjalan. Meski begitu, usahakan untuk berjalan sedikit demi sedikit. Dengan berjalan, Anda dapat melancarkan aliran darah dan membantu mencegah sembelit dan pembekuan darah.
  • Tidur yang cukup. Ketika tubuh sudah merasa lelah, beristirahatlah.
  • Jangan mengangkat barang-barang yang lebih berat dari bayi Anda sampai dokter mengizinkannya.
  • Anda akan mengalami pendarahan pada vagina. Sediakan pembalut.
  • Tanyakan kepada dokter, kapan Anda bisa mulai menyetir mobil dan berhubungan seks.
  • Setelah operasi, buang air besar menjadi tidak teratur. Hindari mengejan ketika sembelit.
  • Ketika batuk atau mengambil napas dalam-dalam, taruh bantal pada luka sayatan di perut Anda. Hal itu bisa mengurangi rasa nyeri pada sayatan.
  • Luka sayatan pada perut juga harus Anda perhatikan. Bersihkan luka tiap hari dengan air hangat dan sabun, namun hindari produk pembersih, seperti hidrogen peroksida karena bisa memperlambat penyembuhan luka. Setelahnya keringkan dengan handuk bersih. Balut luka dengan kain kasa jika luka basah atau bergesekan dengan pakaian. Ganti kain kasa tiap hari. Usahakan daerah sekitar luka selalu dalam keadaan kering.

Rasa takut pasti dirasakan para ibu yang akan melahirkan dan semua dikembalikan lagi  kepada masing-masing individu. Mereka berhak memilih metode persalinan apa pun yang membuatnya nyaman.  Jadi, ibu mau pilih mana? melahirkan dengan caesar atau normal? pilihlah operasi caesar jika ibu hamil dan janinnya hanya memang sesuai indikasi dan faktor-faktor yang mengharuskan ibu hamil lahir dengan operasi caesar. Namun, jika ibu dalam kondisi sehat dan janin pun demikian, pilihlan persalinan normal, karena persalinan normal justru lebih banyak manfaatnya baik bagi ibu maupun bayi itu sendiri

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply