Pahawang Trip – Unlimited Journey with My Friends

ireztia

Perjalanan kali ini terasa berbeda. Hal ini dikarenakan adanya tambahan personil baru dalam kelompok traveling kita. Yang biasanya selalu hanya berdua dengan aa, kali ini perjalanan kami ke Pahawang, Lampung Selatan ini diikutsertakan keluarga dan teman-teman.

Ada adik saya, kakak ipar, dan tiga orang teman yang ikut sehingga rombongan kami berjumlah 7 orang. Kami berangkat dari Bandung malam itu menggunakan mobil pribadi yang rencananya akan diparkir di pelabuhan Merak.

Meeting time dengan pihak opentrip adalah sekitar pukul 00.00 WIB, tepat tengah malam di pelabuhan Merak. Kami berangkat dari Bandung sehabis shalat Isya dengan estimasi akan sampai di Merak tepat waktu.

Sayangnya, malam itu tol Cipularang macet luar binasa. Kami terpaksa harus keluar tol Karawang dan masuk lagi ke tol Bekasi untuk menghindari kemacetan yang menggila. Saya mulai panik karena pukul 11 malam kami masih berada di jalanan Karawang-Bekasi yang kondisi jalannya rusak parah dan harus berjibaku pula dengan truk-truk yang besar.

Beruntung pihak opentrip bersedia menunggu kami. Sekitar pukul 2 malam kami sampai di pelabuhan Merak. Sedikit terlambat, tapi akhirnya kami berangkat juga dengan rombongan lainnya pada pukul 03.30 dini hari dengan menggunakan kapal ekspres. Tiketnya seharga 13.000 / orang.

Kami menaiki kapal dan masuk ke ruangan lesehan. Dengan sigap kami menempati arena lesehan depan televise yang saat itu tengah memutar film box office. Dikira gratis, ternyata untuk bisa menempati lesehan tersebut kami dikenai lagi biaya 12.000/orang.

TIPS : Bawa makanan dan minuman dari luar pelabuhan karena harga air mineral di kapal berkisar 8000-10.000 rupiah untuk menghemat pengeluaran kalian.

Untung saat itu kami membawa bekal nasi timbel dan ayam bakar untuk menu makan malam yang amat sangat terlambat. Kapal sampai di Bakauheni sekitar pukul 05.30 pagi.

Sesampainya di Bakauheni, kami sudah disediakan sebuah mobil Innova dari pihak opentrip. Oiya, kemarin saya menggunakan jasa Pahawang Trip, dimana kalau mendaftar 5 orang, free 1 orang. Alhasil saya hanya membayar trip seharga 490.000/orang untuk 6pax saja.

Sebenarnya standar penjemputan dengan harga segitu adalah Avanza. Tapi karena kami ber-7 ditambah seorang supir, kami meng-upgrade transporasi ke Innova dengan tambahan biaya 300rb (PP)

Supir travelnya nge-rock abis. Kami dibawa ngebut menyalip truk-truk besar dari arah kiri. Saya sampai tak bisa tidur selama 150menit perjalanan menuju pelabuhan Katapang karena deg-degan tiap dia berhasil menyalip truk di depannya.

Sekitar pukul 09.00 pagi kami tiba di Pelabuhan Katapang dengan selamat. Udara saat itu cerah cenderung terik. Kami berganti baju di area Katapang sebelum naik kapal yang akan membawa kami ke Pulau Kelagian.

Dimulai dari Pulau Kelagian, kami mengawali liburan kami dengan hoping island di pulau kecil itu. Ada sebuah ayunan yang diberi papan kayu bertuliskan “Kelagian Kecil” di atasnya yang dapat dijadikan moment foto-foto cantik. Di Kelagian, kami memuaskan diri untuk difoto dari berbagai sudut pulau.

IMG_1191

Perjalanan dilanjutkan menuju spot snorkeling pertama. Saya kurang ingat namanya namun menurut saya spotnya kurang bagus. Airnya tampak keruh dan lebih banyak karang-karang patah. Tak lama, pihak travel membawa kami ke spot kedua.

Di spot tersebut, terumbu karangnya jauh lebih sehat dan banyak. Airnya pun jernih sehingga kami bisa menikmati moment snorkeling. Ada beberapa stupa bawah air yang photoable. Di sekitar stupa tersebut, saya melihat banyak terumbu yang berwarna unik seperti biru metalik dan hijau botol. Beberapa spot juga tampak rumah nemo.

Sedikit kelelahan, sekitar pukul 3 sore kami dibawa dulu ke pulau Pahawang, tempat dimana homestay kami berada. Kami makan siang sebentar kemudian melanjutkan kembali menuju kapal yang akan membawa kami ke spot snorkeling yang kedua.

IMG_1308

Spot snorkeling kami sore itu airnya tidak terlalu jernih, namun ikannya luar biasa banyak. Jenis ikan jinak yang mudah mendekati saat kami memberi mereka makanan berupa roti tawar. Jumlahnya bisa ratusan dan tersebar di beberapa area sehingga kita tidak perlu khawatir berebut spot ikan jinak.

Hari itu arus sangat tenang sehingga kami menikmati snorkeling session ini dengan baik. Sekitar pukul 5 sore, kami dibawa ke salah satu pulau untuk menikmati moment sunset yang cantik.

IMG_1364

Oiya, satu hal yang cukup mengagetkan saya adalah minimnya penerangan yang ada di Pulau Pahawang. Listrik hanya akan menyala pada malam hari, sementara dari subuh hingga sore bersiap-siaplah kehilangan pasokan listrik. Begitupun dengan sinyal. Sinyal yang masih dapat berjalan adalah T-sel, itupun hanya berstatus EDGE. Kalaupun mendapat sinyal 3,5G, kita harus berdiri dekat dengan bibir pantai.

Sinyal dari provider lain lebih lemah daripada T-sel. Kebanyakan sinyal penuh didapat saat kita tengah berada di tengah laut.

Namun karena lelah, malam itu memang saya tidak terlalu terganggu dengan keterbatasan sinyal. Pukul 8 malam saya sudah terlelap untuk menyiapkan energy besok pagi.

Sunrise di pulau Pahawang terbilang cukup menarik. Kami sempat menerbangkan drone pukul 7 pagi setelah sarapan dan mendapatkan suasana kepulauan Pahawang yang sangat cantik. Terlihat dari atas sana gradasi warna pantai yang dipenuhi terumbu karang.

 

IMG_1293

IMG_1388

 

IMG_1405

Pukul 08.00 pagi kami menuju kapal untuk meninggalkan pulau Pahawang dan melanjutkan aktifitas snorkeling untuk yang ketiga kalinya. Menurut pihak travel, di spot Taman Nemo ini yang menjadi andalan wisata Pulau Pahawang. Ini disebabkan adanya budidaya karang besar-besaran yang dilakukan penduduk setempat untuk melestarikan wisata bawah laut di daerah perairan Pahawang.

Dan budidaya itu bisa dibilang berhasil. Betapa tidak, saya menemukan puluhan nemo yang bergerombol di kumpulan terumbu karang. Nemo-nemo tersebut menari cantik, seolah tidak terganggu oleh kedatangan kami. Beberapa diantaranya justru bersifat agresif mendekati kamera kami.

Berkali-kali kami melakukan freedive demi menangkap moment bermain bersama nemo. Di spot ini juga terdapat tulisan “TAMAN NEMO PAHAWANG” yang bisa dijadikan spot photo underwater untuk kenang-kenangan.

877D41D21C07770255D223E790BA0EE3

BD1ABC99BA595B98B6906B61FBBEE54E

D54D5E285C6F75B316C926170E892D56

FB8DD94001C4F8ED10D1E3EAAF1AD3ED

Beberapa kali saya merasakan kram kaki akibat terlalu bersemangat snorkeling. Setelah menyadari sebagian besar rombongan telah naik ke atas kapal, barulah saya mengakhiri aktivitas snorkeling saya dan bergabung bersama rombongan.

Kami kemudian diantar menuju Tanjung Putus. Ini adalah sebuah gugusan pasir yang timbul saat pagi hari ketika air laut surut sehingga penduduk bisa berjalan kaki antar pulau. Menurut cerita, pulau ini menjadi terputus ketika Gunung Krakatau meletus dan berpisah menjadi dua pulau. Disini kami menemukan banyak banana boat dan donut water yang bisa disewa dengan tariff 25-30rb per orang.

 

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply