KEBAKARAN HUTAN MELANDA TANJUNG PUTING, RIBUAN SATWA MENYELAMATKAN DIRI

ireztia

Sebelum baca artikel ini, ada baiknya anda melihat video dokumenter tentang penderitaan orang utan akibat penebangan liar dan kebakaran hutan di Kalimantan..

Prolog :

Menyedihkan, mengingat orang yang peduli terhadap keberlangsungan hidup mereka justru datang dari pihak luar. Masyarakat lokal pun terkadang tega membunuh spesies langka ini karena dianggap mengancam kehidupan mereka. Seolah binatang yang hampir punah ini tak ada harganya…

e

Lihat mereka lebih dekat, maka kita akan tahu rasanya sakit karena disingkirkan dan ‘terusir’ dari habitat yang menjadi hak mereka…

Dimana kita, generasi berwawasan yang disebut generasi emas selama ini?

Lalu pertanyaan selanjutnya, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?

Jika saat ini kita belum bisa berdonasi apa-apa, sebarkanlah info tentang keberadaan mereka untuk mengedukasi orang-orang yang kita kenal agar sedikit banyak tahu tentang kepunahan ini. Agar belajar mencintai alamnya sendiri, mencintai kekayaan negerinya sendiri…

Karena kita tidak pernah tahu, kapan terakhir kita bisa melihat orang utan secara langsung, bukan dari buku ataupun gambar internet…

Siapa tahu, orang yang kita edukasi suatu saat memiliki ‘power’ untuk bisa berbuat sesuatu yang lebih untuk melestarikan hidup hewan-hewan langka yang hampir menemui kepunahan ini…

Mereka punah bukan karena seleksi alam, tetapi karena ada predator paling jahat di muka bumi ini, yaitu manusia….

======

KEBAKARAN HUTAN MELANDA TANJUNG PUTING

Kebakaran hutan yang terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, saat ini semakin parah. Dari total luas 415.040 kektare, diperkirakan 16 ribu hektare hutan yang berada di Kabupaten Seruyan ludes terbakar.

Komandan Satuan Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Tengah Kolonel Purwo Sudaryanto mengatakan saat ini selain Taman Nasional Tanjung Puting yang terbakar, Taman Nasional Sebangau di Kabupaten Katingan juga ikut terbakar. Jumlah areal yang terbakar mencapai 10 ribu hektare dan sudah terjadi sejak tiga pekan lalu.

Ini menyebabkan kabut asap yang memprihatinkan. Kabut asap di Kalimantan Tengah sudah di luar kewajaran. Beberapa waktu lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan emisi karbon dioksida (CO2) di Kalteng jauh di atas jumlah ambang batas emisi wajar dunia yang hanya 480 ppvb.

Data BNPB menyebutkan emisi CO2 di provinsi itu pernah mencapai 2.237 ppvb pada Minggu 11 Oktober 2015.

Tak tahan menghirup CO2, dua orang utan keluar dari habitatnya di Kalimantan Tengah. Mereka keluar hutan menuju daerah yang tidak terbakar.

“Dua orang utan keluar dari habitatnya hutan yang terbakar di kawasan Trans Kalimantan Km 30 Kalteng,” tulis Kepala Pusat Data, Infomasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam akun Twitter-nya, Jumat (23/10/2015).

Beruntung, lanjut dia, warga dan petugas melihatnya sehingga keduanya dapat diselamatkan.

Orang utan yang tertangkap kamera sedang berusaha menghindari kabut asap

Orang utan yang tertangkap kamera sedang berusaha menghindari kabut asap

Epilog :

Lonjakan populasi manusia membuat kebutuhan lahan untuk dijadikan tempat tinggal semakin meningkat. Dataran hutan luas di Kalimantan menjadi salah satu objek penebangan yang dilakukan manusia guna memenuhi kebutuhannya, seperti lahan tempat tinggal, kayu-kayu untuk berbagai furniture dan kertas, hingga penanaman sawit untuk olahan makanan/kosmetik.

Di satu sisi, cara ini dilakukan manusia untuk mempertahankan keberlangsungan hidup mereka. Namun disisi lain, ada banyak nyawa yang harus dikorbankan. Salah satunya spesies orang utan.

Sadarkah kita, bahwa orang utan yang dulu popular sebagai salah satu ikon pesona Indonesia telah banyak berkorban untuk kehidupan manusia? Spesies mereka dipaksa kehilangan tempat tinggalnya dan sumber makanannya untuk mempertahankan kebutuhan manusia.

Namun terkadang, bukan hanya kebutuhan sebagai alasan utama penebangan hutan Kalimantan. Melainkan juga sisi keserakahan kaum tertentu agar dapat meraup banyak keuntungan.

Akibatnya, banyak orang utan yang mencari makan keluar zona mereka, yaitu ke pemukiman penduduk. Mereka seolah mempertanyakan, apakah mereka tidak memiliki hak hidup dan makan seperti para manusia?

Namun banyak terjadi pembunuhan liar orang utan oleh masyarakat Indonesia sendiri karena dianggap mengganggu dan mengancam kehidupan mereka.

Yang jadi pertanyaan, apakah mereka (orang utan) yang patut dipersalahkan???

Bukankah sikap mereka adalah akibat dari ulah manusia itu sendiri??

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply