Wakatobi : “Dream Destination Trip” Yang Tercapai

ireztia

Miliki mimpi sebanyak mungkin, karena kita tidak pernah tahu berapa banyak mimpi yang terwujud dari ratusan mimpi yang kita miliki…

Termasuk soal destinasi traveling.

Wakatobi, akhirnya bisa juga kaki saya menginjak tanah di Tenggara Pulau Sulawesi itu. Sebuah kepulauan dari Wanci, Kaledupa, Tomia dan Binongko yang unik. Destinasi traveling bagi pecinta bawah laut yang namanya lebih terkenal di telinga para bule dibanding masyarakat negerinya sendiri.

wakatobi-02_thumb

Wakatobi adalah neraka di darat namun surga di dalam laut.

Mungkin itulah yang bisa digambarkan dengan struktur dataran Wakatobi. Unik, karena Wakatobi adalah tempat tandus dan kering jika dilihat dari atas laut. Pepohonan sulit hidup disini, bukan lagi tanah berbatuan yang menyebabkan tumbuhan hijau sulit bertahan. Tetapi karena daratan Wakatobi lebih tepat disebut sebagai bebatuan yang bertanah.

Namun dibalik tandus dan keringnya daratan disana, Wakatobi menyimpan rahasia alam kelas dunia. Underwater world always silent. Dan disanalah kecantikan Wakatobi tersembunyi. Di balik reef berwarna pelangi sebagai tempat berlindung ratusan jenis binatang laut. Saking kayanya biota laut di Wakatobi, maka kepulauan tersebut memiliki predikat sebagai taman laut terindah dan terlengkap di dunia.

Dan bagi saya, Wakatobi sebenarnya merupakan deretan destinasi urutan terbawah sebelum Raja Ampat dari hoping list traveling keliling Indonesia mengingat waktu tempuh dan budget yang lumayan menguras kantong, jika harus mengabaikan kenyataan bahwa nama Wakatobi sangat harum di telinga para world traveler.

Bahkan saya pikir, Wakatobi jauh lebih terkenal dan jauh lebih sering disinggahi para turis asing dibandingkan turis lokal sendiri. Entah karena budgetnya yang jauh lebih mahal daripada tour Asia, maupun karena masih rendahnya rasa cinta alam negeri sendiri di kalangan masyarakat kita.

Oke, selesai prolog seriusnya. Mari kita kembali pada bahasa narasi gue yang lebih ringan.

Intinya, gue ga pernah menyangka bisa dateng ke tempat ini secepat ini, mengingat kemampuan renang gue yang pas-pasan dan kemampuan diving yang nol besar. Niat les renang bernasib sama dengan niat diet yang tak pernah kunjung terlaksana.

Hanya bermodal nekat dan sok bisa, gue sama aa sepakat ke Wakatobi untuk mencicipi manisnya bawah laut disana.

Ga butuh waktu lama buat kami menyusun itinerary dan membooking ini itu. Terimakasih kepada kartu kredit *andiri, *raveloka, *goda,  yang udah membuat proses traveling kami berjalan mudah.

Menuju Wakatobi ga bisa dilakukan dengan satu kali penerbangan. Kami harus memilih tempat transit Kendari atau Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Wakatobi dengan pesawat yang lebih kecil. Karena alasan ini pulalah kami memutuskan untuk berangkat melalui Kendari dan pulang melalui Makassar agar kami bisa stay one night di masing-masing kota tersebut agar bisa melakukan city tour.

Jadi, sekali traveling, dua tiga kota terjejaki, eh…

Gugusan pulau Sulawesi Tenggara

Gugusan pulau Sulawesi Tenggara

Perjalanan dimulai tgl 9 Oktober 2015 dini hari, start dari rumah manggil gojek buat nganter ke pool Primajasa di Batununggal seperti biasa. Jadwal bus kita tepat 12.00 tengah malam karena kita flight jam 5 subuh di bandara Soekarno Hatta.

Perjalanan menuju Kendari membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Dan senang sekali kita mendapatkan 2x sarapan selama di dalam pesawat yang bikin gue kenyang. Perjalanan ga kerasa karena dalam pesawat gue bisa nonton film dan muter musik.

IMG20151009104133

Di Kendari, kita nginep di Swiss Bell Hotel semalem aja. Niatnya sih pengen city tour ke tempat terdekat, tapi ternyata Kendari (sepertinya) bukan tempat destinasi wisata yang mumpuni. Kami bahkan kesulitan mendapatkan transportasi umum seperti angkot. Kami pergi ke Mall Mandonga yg dekat dengan hotel dan menemukan Mall tersebut sekelas ITC Kebon Kalapa Bandung.

IMG20151009172538

Bingung mau kemana, akhirnya kami muter-muter dipasar buat cari sandal jepit, aneka cemilan, dan air mineral. Kuliner khas setempat pun rasanya tak kami temukan, sampai akhirnya kami menyerah dan hanya makan ikan laut di pinggir jalan sebagai menu makan malam.

IMG20151009191404

IMG20151009191459

Tapi penting untuk dicatat, gue melihat disiplin warga Kendari dalam berkendara motor wajib diacungi jempol. Kulihat mereka tertib menggunakan helm meski tidak ada polisi maupun kepadatan lalu lintas. Dan warga Kendari luar biasa ramah. Para ojeg disana pun tidak mematok harga, menyerahkan harga yang pantas kepada kami sebagai penyewa jasa mereka.

Oke, seperti biasa gue selalu membuat artikel traveling dalam beberapa bagian agar gue bisa detail menceritakan tiap detik yang gue lewati. Kali ini, gue membagi cerita Wakatobi – Makassar ke dalam bagian-bagian :

A. Fun Diving di Wakatobi, Surga Bawah Laut Kelas Dunia

B. Wakatobi Dive Resort Review : Area Presticious di tanah Tomia

C. Makassar City Tour : Fort Rotterdam, Pantai Losari dan Taman Nasional Bantimurung

Oiya, tapi selain cerita tentang happylife Wakatobi, disini terselip satu kejadian yang ga akan bisa gue lupain di Kendari, semalam sebelum gue terbang ke Wakatobi. Jadi ceritanya, kami yang pecinta berat kucing melihat seekor kucing kurus yang terluka di bagian ekornya saat makan malam. Tapi sayangnya, niat baik ingin menolong kucing tersebut harus berakhir dengan menghabiskan malam kami di Kendari dengan mengelana jalanan kota tersebut untuk mencari vaksin rabies yang langka setengah mati.

Kucing yang niatnya akan kami tolong malah beringas dan menggigit jari tangan aa. Diduga, kucing tersebut mengidap rabies karena dilihat dari bekas lukanya, kucing tersebut seperti digigit oleh hewan buas yang lebih besar, seperti gigitan anjing. Sementara, di Kendari sedang terjadi wabah rabies dan dikhawatirkan kucing tersebut tertular penyakit mematikan tersebut.

Sungguh, malam sebelum kami berangkat ke Wakatobi itu adalah malam terburuk kami di tanah rantau. Jika bukan karena keramahan warga Kendari, sepertinya aku harus membatalkan rencana liburan ke Wakatobi dan kembali ke Bandung.

Hiks…

Cerita selengkapnya ada posting Tragedi Kendari : Kupikir Rabies itu Penyakit Masa Lalu…

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply