Wakatobi Diving : Jelajahi dan Sebarkan Rasa Cintaku untuk Indonesia

ireztia

Kerajaan bawah laut Wakatobi sudah lama memikat diver untuk menyapa para ikan dan aneka karang cantik. Tapi daya pikatnya ternyata salah sasaran mengingat gue yang berkemampuan renang pas-pasan dan tidak pernah berpengalaman diving pula terperangkap dalam rayuan diving di Wakatobi.

Bermodal nekat dan mecah celengan (mengingat budget keliling Indonesia itu bikin meringis jika dibandingkan dengan jalan-jalan ke negara tetangga), gue sama aa nekat ke Wakatobi buat wisata bawah laut yang digadang-gadang menjadi spot diving terbaik di Indonesia, bahkan di dunia.

Bertemu dengan open trip Ocean Wakatobi, gue berkenalan dengan Pak Rahmad, Pak Viola dan Pak Jaya yang selanjutnya akan menjadi dive master kami sepanjang 4 hari ke depan. Mereka orang asli Tomia, dan sepertinya terlahir sangat Sanguin sehingga mereka akan gue nobatkan sebagai guide trip terbaik yang pernah gue temui. Kocak, hangat, perhatian, dan mengerti kecentilan gue dalam underwater selfie, hahaha…

Gue memilih Tomia menjadi tujuan menyelam di Wakatobi setelah melihat review bahwa diantara keempat pulau, yaitu Wanci-Kaledupa-Tomia-Binongko, pulau Tomia lah yang memiliki spot-spot terbaik yang sering dijadikan wallpaper sama oom Google. Hehehee…

“Jika ingin tahu surga bawah Laut datanglah ke Wakatobi. Karena terletak di segitiga karang dunia, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, dianugerahi pemandangan bawah laut yang luar biasa. Karang-karangnya masih sangat sehat, beraneka ragam makhluk laut, dan ikan-ikan yang cantik.”

IMG20151010131116

Penerbangan ke Wakatobi berjalan lancar. Kami tiba di Bandara Matahora sekitar pukul 13.30 waktu setempat. Tim Open Trip telah menunggu kami di Bandara tepat waktu. Pak Viola yang menjemput kami dengan rambut kemerahannya karena sering terpapar matahari. Begitu bertemu, dia udah cengengesan dengan wajah yang menyenangkan.

IMG20151010131336

Kemudian kami diantar Avanza dari bandara menuju Basecamp Ocean Wakatobi di dekat alun-alun Wangi-Wangi sekalian makan siang. Di tempat makan siang, kami berkenalan dengan keluarga Bapak Willy bersama istri dan anaknya. Mereka bertiga lah teman satu trip kami selama 5 hari kedepan. Mereka super ramah dan menyenangkan.

Selama makan siang mereka sempat bercerita kemana saja mereka pernah berkelana. Pak Willy memang menyukai kegiatan diving. Beliau sangat antusias sekali datang ke Wakatobi untuk membuktikan kehebatan bawah laut yang selama ini hanya ia dengar dari sesama diver di klubnya.

PS : Oiya, makan siangnya enak sekali. Bahkan terlalu berlimpah untuk kami yang hanya lima orang saja.

Speed boat yang mengantar kami ke Tomia akhirnya berangkat sekitar pukul 3 sore.

IMG20151010163925

Lama perjalanan sekitar 150menit dan akhirnya kami sampai di Tomia ketika matahari hampir terbenam. Ketika kapal merapat ke dermaga, kami melihat anak-anak Tomia asik menceburkan diri ke dalam air laut. Naik dermaga lagi dan melompat lagi hingga mereka kelelahan. Masih dengan berpakaian seragam lengkap, anak-anak Tomia itu memang pandai berenang di laut.

IMG20151010172527

IMG20151010172615

Suasana di Tomia

Laut adalah arena terluas dan ternyaman bagi anak-anak Wakatobi untuk bermain sepuasnya. Mereka berenang kesana kemari dengan ikan-ikan di sekitar dermaga. Terkadang ketika libur sekolah, mereka ikut serta ayahnya mendampingi para tamu berlayar ke lautan.

Selama trip, kami menginap di Laborstay, jaraknya hanya 100-200 meter dari dermaga. Meski sederhana, kami nyaman sekali tinggal disana. Bagian belakang homestay menghadap kelaut sehingga kami bisa mendengar debur ombak selama kami tertidur nyenyak.

IMG20151010172929

Keadaan di kamar homestay kami…

Diving hari pertama…

Mendadak perut melilit karena tegang. Sarapan rasanya gak karuan, tapi tetap dilahap juga mengingat kita bakal seharian di kapal. Speedboat mulai bergerak ke arah barat Tomia pukul 8. Dan hamdalah, gue ga bisa menyembunyikan rasa panik sekaligus senang. Melakukan sesuatu hal yang baru selalu mengesankan. Begitu pula dengan penyelaman ini.

Dalam kapal ada 10 orang, gue dan aa, keluarga Pak Willy, 3 dive master (Pak Jaya, Pak Ola dan Pak Rahmad), serta 2 orang yang menunggui kapal, Pak Ali dan Pak Taswin.

IMG20151011082342

Kapal kami bersiap menjauh dari dermaga

Pak Ola yang bertanggung jawab terhadap aa, sementara aku dijaga oleh Pak Jaya. Pak Jaya memang lebih kalem dibanding Pak Viola, tapi alhamdulillah banget gue dipegang Pak Jaya, beliau paham menggunakan gopro dan sangat amat berjasa dalam sesi pemotretan gue selama di bawah laut untuk kenang-kenangan. Hahahaha…

Sebelum penyelaman perdana, kami diberikan kursus singkat mengenai alat-alat selam dan cara menggunakannya. Maklum, kami kan discovery diver. Jujur aja, awalnya gue panik karena begitu banyak hal perintil yang harus diingat selama di dalam laut yang ga gue ngerti sedikitpun sampai akhirnya Pak Ola bilang, “Intinya jangan panik, bernafas senyaman mungkin dan biarkan yang lainnya kita yang atur.”

Yak !! Cukup kata-kata itu yang mau gue denger. Sebelum diribetkan oleh alat selam yang berat itu, perasaan gue udah amat njelimet ngebayangin andai ini andai itu. Mulai dari kemungkinan masker kemasukan air, tabung gue ga berfungsi, Pak Jaya sejauh mana mau ngejagain gue, gimana kalau ketemu hewan buas, sampe ngebayangin gimana kalau gue kebelet pipis tapi ga bisa karena panik. Halah…

IMG20151011082604

Lagi nerawang nyari ilham gimana caranya ga nervous

Dan ketegangan malah semakin menjadi ketika peralatan selam mulai dipasang. Gue dipasangin pemberat 5 biji dan cukup bikin gue tertatih-tatih. Terlebih setelah terpasang BCD, gue ga yakin bakal suka sama kegiatan ini.

Pak Jaya nyuruh gue mencoba menghirup udara dari tabung oksigen. Ampun Gustiiiii…. Rasanya gak nyaman sekali, berasa megap-megap akhirnya gue lepasin lagi masker dan nyengir kuda.

Mengetahui hidup kita tergantung pada selang hitam ini selama satu jam ke depan bikin gue takut luar biasa. Akhirnya Pak rahmad menyemangi dan merayu gue, “Kalau kamu ga panik, nanti kita bisa ajak kamu ke tempat yang jauh lebih bagus dan diperuntukkan para advance biar kamu bisa-bisa gak mau naik ke permukaan.”

Gue iya-iyain aja akhirnya. Inget kalau kegiatan diving ini udah bikin kantong bolong jadi ga boleh disia-siain. Rasa penasaran akan bawah laut akhirnya cukup kuat untuk mengalahkan rasa takut hingga akhirnya di hitungan ketiga mereka berhasil nyuruh gue menjatuhkan diri ke laut dengan posisi kepala masuk duluan.

Sensasi air laut yang dingin dan asin bikin panik lagi. Ketiika akhirnya gue bisa ngambang di laut, gue mulai mencoba masker udaranya lagi dan lagi perasaan dada ingin meledak menyerang. Pak Jaya kemudian mendekati. Gue ngerasa sedikit air masuk ke masker dan ingat cara mengeluarkannya, yaitu menekan sedikit bagian atas masker sambil menghembuskan nafas sekuat-kuatnya untuk mendorong air keluar.

Setelah beberapa detik, gue bersyukur dapat mengendalikan keseimbangan dengan peralatan selam dan mulai mencoba menyamankan diri lagi dengan bernafas melalui selang. Mengambang di atas laut dengan peralatan diving memang sedikit rumit dibanding snorkeling, karena kita harus tetap berada di posisi aman yaitu terlentang. Setelah semua awak turun ke laut, barulah Pak Jaya bertanya, “Siap?” dan gue ga ada pilihan lain selain mengangguk pasrah.

Pak Jaya kemudian mengempiskan sedikit demi sedikit udara dalam jaket BCD gue.

Perasaan panik sedikit muncul kembali sesaat setelah gue mulai turun. Rasa tidak nyaman dengan tabung udara dan kekhawatiran air masuk ke dalam masker bergantian masuk ke otak. Di detik-detik awal gue merasa terlalu banyak menghirup nitrogen karena panik namun memakan waktu lebih lama untuk menghembuskannya sehingga dada terasa sesak lagi.

Gue berusaha sekeras mungkin untuk menghilangkan kepanikan. Ga lucu rasanya kalau oksigen gue cepet habis di tengah laut karena gue ga bisa ngendaliin perasaan panik ini.

Ketika Pak Jaya semakin menurunkan kedalaman, aku merasa telinga sakit sekali. Aku mencolek Pa Jaya dan dengan bahasa tangan gue bilang ada masalah dengan telinga gue. Kemudian Pak Jaya mengingatkan dengan bahasa tubuh menunjuk hidung bahwa gue harus mengeluarkan tekanan dalam telinga dengan cara menekan hidung lalu seperti akan menghembuskan nafas. Ternyata sangat membantu. Dan setelah gue memberi simbol oke, Pak Jaya mulai mengantarkan gue ke deretan dinding coral yang mula terlihat di depan mata.

Area pertama diving kami di daerah Hondue. Dan detik itulah, gue mulai mulai mabuk kepayang sama kecantikan Wakatobi, duileee bahasanya !!! Gue emang belum pernah diving sebelumnya sehingga gue ga punya perbandingan dengan taman laut manapun. Tapi penyelaman pertama ini membuat gue berjanji untuk mengambil lisence diving setelah balik dari Wakatobi. Asli, gue jatuh cinta dengan diving pertama gue !!!

 

DCIM101GOPROG0171389.

Dinding coral yang terbentang, terumbu saling berdesakan berebut tempat.

DCIM101GOPROG0171441.

Dalam satu kedipan mata, puluhan warna coral cantik mengajak bercumbu.

DCIM101GOPROG0171738.

Kecantikan coral terbentang ratusan meter, membuat ribuan ikan memilih tinggal disana selamanya…

Di Hondue Reef, kami diajak menyusuri dinding coral sepanjang +/- 1km, dengan ketinggian sekitar 30-40 meter. Terumbu karang disini sangat banyak dan terlalu pelangi bahkan dengan sekali menatap. Dalam satu terumbu, aku bahkan bisa melihat belasan gradasi warna dan bentuk yang saling berebut tempat.

Bahkan pasir putih pun menjadi jarang terlihat, saking berdesakannya terumbu karang disini. Terlalu kaya. Terlalu berwarna. Terlalu cantik. Tak mengerti kata-kata apa yang sanggup melukiskan indahnya capture hidup yang terekam mata dan tersimpan indah di memori otak.

Terumbu karang yang terlalu banyak ini membuat biota lautnya jauh lebih kaya. Dalam satu terumbu, kami bisa melihat beragam jenis ikan mikro yang bergiliran menyapa ke depan mata lalu bersembunyi di balik coral ketika aku hendak menyentuhnya.

Jika di tempat lain (saat snorkeling) kita bisa melihat ratusan ikan hias dengan warna yang hampir seragam dalam satu gerombol, maka di perairan Tomia ini kita bisa melihat ratusan ikan hias dengan warna yang sangat beragam. Mereka tidak hidup berkelompok, seakan menyatu dalam keluarga lintas spesies dan hidup rukun. Dalam satu capture kamera, jika diperbesar maka kita bisa menangkap beberapa jenis spesies binatang laut sekaligus.

Dan aku dengan ndesonya menatap dengan kagum aneka terumbu yang aneh. Ada terumbu berwarna hijau botol yang sangat menarik perhatian. Belum pernah kami melihat koleksi terumbu sebanyak ini, membentang sepanjang kiloan meter dengan ketinggian 40 meter dan memiliki kerapatan antar terumbu yang luar biasa.

Hampir satu jam diving, gue mulai merasa kedinginan. Gue sempat melihat ke atas dan menyadari permukaan air sangat jauh di atas sana. Kerongkongan juga mulai terasa kering. Tapi gue mengenyampingkan perasaan kurang nyaman tersebut karena terus menerus disuguhi pemandangan luar biasa ini.

Beruntung 10 menit kemudian, disaat kedinginan sudah mulai mengganggu, Pak Jaya memberi isyarat untuk naik ke atas. Gue cepat-cepat mengiyakan. Pelan tapi pasti, Pak Jaya mengisi kembali BCD dengan udara sehingga gue mulai naik ke atas.

Ketika kembali ke permukaan, sinar matahari langsung menyambut dan gue menyadari kalau boat kami sudah menunggu disana. gue naik ke atas kapal dengan perasaan luar biasa bahagia.

GUE BENER-BENER JATUH CINTA SAMA WAKATOBI, SUBHANALLAH…..

“Gimana mbak, bagus?” Tanya istri Pak Willy yang hari itu lebih memilih snorkeling aja. “Snorkeling aja bagus banget tadi saya. Apalagi diving ya…”

Aku berkaca-kaca. Hampir ga tau harus berekspresi gimana. “Bagus banget bu.. Tapi disana dingin, saya kebelet pipis sebenernya…”

Dive master kami cuma mesem-mesem. Dengan bangganya mereka bilang,

“Padahal itu spot standar di Wakatobi loh mbak… yang discovery biasanya kami bawa kesini.”

Ajegileeeeee, standar aja udah luar biasa cantiknya. Gimana yang laiiinnnnnn…..

#nangisgulingguling

Sekitar jam 11 kami lalu berhenti di pesisir untuk makan siang sebelum penyelaman kedua. Sempat berselfie ria dulu disana karena spotnya photoable.

IMG20151011104940

IMG20151011104946

IMG20151011105453

IMG20151011105542

IMG20151011105748

Lanjut ke diving kedua, nama areanya adalah Dunia Baru. Suasana bawah laut sudah bisa menyamankan perasaan gue sehingga gue bisa mulai fokus ngabadiin beberapa foto. . Sempat kami menemukan ular laut dan baracuda, tapi gerakannya terlalu cepat untuk bisa kami foto. Untunglah kami merekam nemo cantik disini.

Memburu aneka satwa laut

Memburu aneka satwa laut

Meski di laut teteup sadar kamera

Meski di laut teteup sadar kamera

Nemu nemo cantik meski rada blur

Nemu nemo cantik meski rada blur

DCIM100GOPROG0050555.

Yapp !! Hari pertama diving ternyata berjalan mulus. Bahkan tim dive master memuji ketenangan kami di bawah laut sehingga tidak terlalu merepotkan mereka. Sebenernya 2x dive di hari pertama tidak membuat kami cukup puas, ingin rasanya melakukan dive ke 3, cuma karena jatah kami hanya 2x dive per hari akhirnya di daerah Marimabuk kami hanya bersnorkeling ria.

Hari kedua…

Sudah jauh lebih percaya diri pagi itu, meski wajah kami memerah dan terasa perih. Untung gue pakai EMC, kulit jadi adem. Pagi itu, kami dibawa ke Teluk Maya. Di hari kedua, kami sangat berambisi bisa mengabadikan moment-moment indah di perairan Wakatobi baik berupa foto maupun video lebih banyak dari kemarin.

Bayangin dimana elo bisa nemuin wall reef umpel-umpelan penuh sesak sekaya ini????

Bayangin dimana elo bisa nemuin wall reef umpel-umpelan penuh sesak sekaya ini????

Dipegang-pegang rasanya kaya jelly

Dipegang-pegang rasanya kaya jelly

Nemu ikan singa... cantik tapi mematikan lho!!

Nemu ikan singa… cantik tapi mematikan lho!!

Ikan-ikan kecil yang berbahagia dengan rumah tinggal sekaya ini

Ikan-ikan kecil yang berbahagia dengan rumah tinggal sekaya ini

Cantik... cantik... semuanya cantikkk...

Cantik… cantik… semuanya cantikkk…

Di diving ketiga ini, Pak Jaya sudah mulai memahami jiwa narsis gue dan berkali-kali menawari photo session yang tak mungkin gue tolak. Hehehe….

Harus berhati-hati biar ga keinjek dan merusak keindahan terumbunya

Harus berhati-hati biar ga keinjek dan merusak keindahan terumbunya

Sebenernya fotonya buanyak sekali. Tapi gue ga tega ngabisin kuota pembaca kalau semua gue upload, hehehe…

Disitu juga sempet liat ada belut segede paha (menurut gue sih itu uler ya secara pas gue liat dia mengaga keliatan gigi-gigi tajem) dan semacam ulet raksasa (jalannya kaya ulet) yang nangkring di atas pasir (katanya sih beracun).

Trus sempet ketemu juga sama penyu, gue nunjuk-nunjuk penyu dan Pak Jaya dengan sangat pengertian mengerahkan seluruh kemampuan nyelamnya untuk mengejar penyu sampai ke dalam laut biru.

Pertama kali gue bisa ngerasain yang namanya renang cepet banget. Yang ga mungkin bisa gue lakuin sendiri dengan kemampuan berenang yang di bawah rata-rata. Menembus kegelapan laut dengan cepat memberikan sensasi aneh yang menggembirakan.

Ketika penyu tersebut sudah menghilang, barulah gue sadar kalau kita udah berenang jauh dari reef coral. Video ngejar penyu gue upload youtube deh…

Sekitar sejam main sama ikan dan terumbu karang, kami makan siang di Pulau Sawa. Pulau cantik yang tidak berpenghuni ini ternyata memiliki spot menarik untuk bisa berfoto di atas laut.

Spot cantik di Pulau Sawa

Spot cantik di Pulau Sawa

Hari kedua udah mulai eksotis warna kulitnyaa...

Hari kedua udah mulai eksotis warna kulitnyaa…

Ternyata, ga semua daratan Wakatobi tandus dan kering. Ada spot cantik di pulau tak berpenghuni ini yang loveable jika diabadikan.

Diving ke empat, kami dibawa ke Fan 38 Dive.

Menurut gue, ini reef coral terbaik yang gue liat dengan biota laut yang lebih beragam. Bener kata Pak Rahmad, di Hondue kemaren (yg gue puji-puji selangit itu) ternyata masih kalah indah dengan spot dive keempat ini. Reef coral sepanjang 1,5km dan berada di kawasan Wakatobi Dive Resort. Spot terbaik di perairan Tomia untuk koleksi terumbu karangnya.

Bayangkan kamu berada di taman laut secantik ini...

Bayangkan kamu berada di taman laut secantik ini…

Predator berbahaya buat ekosistem laut ya ikan singa ini...

Predator berbahaya buat ekosistem laut ya ikan singa ini…

Ikan singa lagiiiii

Ikan singa lagiiiii

Inilah alasan kenapa Wakatobi disebut taman laut terlengkap di dunia...

Inilah alasan kenapa Wakatobi disebut taman laut terlengkap di dunia…

Coralnya terlalu berwarna, bikin terharu liatnya...

Coralnya terlalu berwarna, bikin terharu liatnya…

Hamparan coral terbentang luas, susah nyaingin sehatnya coral di Wakatobi

Hamparan coral terbentang luas, susah nyaingin sehatnya coral di Wakatobi

Ikan ini menyerupai batu karang, ada yang tahu namanya??

Ikan ini menyerupai batu karang, ada yang tahu namanya??

Hayoo... yang teliti pasti bisa ngeliat ikan ini...

Hayoo… yang teliti pasti bisa ngeliat ikan ini…

Coralnya pelangi banget, sukaaaa !!!

Coralnya pelangi banget, sukaaaa !!!

Coral yang super duper sehat

Coral yang super duper sehat

Setelah dive keempat, gue malah makin tergila-gila dengan Wakatobi. Gue langsung berembuk sama aa kapan kita harus bongkar celengan lagi untuk ambil short course diving biar berstatus open water dive.

Menjelang sunset, kami dibawa dengan kru Ocean Wakatobi lengkap ke Puncak Kahyangan untuk mengabadikan Pulau Tomia dari landscape tertinggi.

IMG20151012170637

IMG20151012171440

Sunset from Tomia

Sunset from Tomia

IMG20151012171848

IMG20151012172039

IMG20151012172052

IMG20151012172220

Bersama kru tersayang, halah....

Bersama kru tersayang, halah….

IMG20151012173455

Wajib foto disini ...

Wajib foto disini …

Beautiful landscape... Miss this place so much...

Beautiful landscape… Miss this place so much…

Hari ketiga diving…

Ini hari terakhir kami dalam melakukan diving. Dan rasanya hari ketiga ini adalah hari keberuntungan aku dan aa.

Bagaimana tidak, jika hari ini kami diberikan begitu kesempatan langka seperti :

  1. Para dive master akhirnya sepakat mengajak / menggabungkan kami dengan Bapak Willy yang sudah berada di level advance untuk menyelam di area terbaik Tomia, yaitu Ali Reef. Disebut area terbaik karena di area ini kami bisa melihat aktivitas schooling fish. Schooling fish biasanya terjadi dalam pergerakan arus yang kuat sehingga level discovery tidak pernah dibawa ke tempat ini karena dinilai belum cukup aman.

Namun kami patut berbangga karena dive master menilai kami cukup tenang untuk ukuran pemula sehingga mereka pertama kalinya dalam sejarah open trip memberi kesempatan kepada para discovery diver menyelam ke Ali Reef ini.

Beruntungnyaaaaa….

Aku luar biasa gembira saat mendengar ajakan itu. Pak Rahmad bilang kita harus pergi jam 6 pagi agar arus tidak semakin besar jika ingin melihat schooling fish ini.

Ketegangan kembali muncul di hari ketiga karena ini dive pertama kami di arus kuat. Dengan berpegangan ke tambang besar perlahan kami menuju ke bawah.

Jiwa narsis emang selalu sadar kamera

Jiwa narsis emang selalu sadar kamera, sementara yang lain sibuk melawan arus kuat.

Dibawah permukaan laut, arus mulai mengecil dan kami cukup mencari posisi yang nyaman untuk melihat secara langsung ribuan ikan bergerak bergerombol di depan mata.

Schooling fish at Wakatobi

Schooling fish at Wakatobi

Subhanallah ya...

Subhanallah ya…

Ga bisa gerak saking terpesonanya...

Ga bisa gerak saking terpesonanya…

Berenang menembus ribuan ikan teri.. eh??

Berenang menembus ribuan ikan teri.. eh??

Supported by Pak Jaya, hihiwww...

Supported by Pak Jaya, hihiwww…

Subhanallah sekali. Aku benar-benar merasa beruntung bisa mengalami kejadian ini di kali pertama kami wisata diving.

  1. Keberuntungan kami berlanjut saat keluarga Bapak Willy mengundang kami untuk makan siang di Wakatobi Dive Resort (WDR). Tempat ini adalah tempat paling prestisius sejagat raya Wakatobi dan tidak semua orang bisa merapatkan boatnya di dermaga jika belum terdaftar dalam waiting list.
IMG20151013114925

Resort $400 per malam…

Cantiknya ga usah diedit, cantik maksimal !!!

Cantiknya ga usah diedit, cantik maksimal !!!

Dermaga Wakatobi Dive Resort

Dermaga Wakatobi Dive Resort

Bisa menginjakan kaki di WDR aja udah seneng banget, apalagi diajak makan siang mewah dengan menu internasional senilai $50/orang dengan gratis.

Makan siang gratis, alhamdulillahhh...

Makan siang gratis, alhamdulillahhh…

Buat yang belum tahu istimewanya WDR, sengaja gue bikin artikel tersendiri di Wakatobi Dive Resort Review : Area Presticious di tanah Tomia. 

Lengkap dengan foto-foto resortnya dari semua sudut…

  1. Keberuntungan selanjutnya adalah di spot diving terakhir, yaitu area Marimabuk, karena selain kita menemukan coral reef yang luar biasa cantik, kami bertemu dengan tiga ekor penyu yang jinak sekaleee… saking jinaknya, kami ga perlu mati-matian mengejar mereka kaya wartawan gossip mengejar artis ibukota.
Area Marimabuk

Area Marimabuk

Nemu penyu yang lagi renang cantik depan mata itu rasanya kaya dapet durian runtuh...

Nemu penyu yang lagi renang cantik depan mata itu rasanya kaya dapet durian runtuh…

Penyu-penyu itu kayanya pas lagi ngantuk deh. Karena pas gue deketin dengan kemampuan renang gue yang alakadarnya, mereka cuma renang-renang santai. Entah ngejek kecepatan renang gue atau emang pengen foto bersama dengan gue (ehem…)

Yeeee, penyunya mau dielus mesra ama gueee !!!

Yeeee, penyunya mau dielus mesra ama gueee !!!

Dan aa pun ga mau kalah utk bisa kenalan ama penyu yg unyu-unyu

Dan aa pun ga mau kalah utk bisa kenalan ama penyu yg unyu-unyu

Yang jelas, itu penyu dengan sengajanya berenang pelan depan mata gue banget. Seolah tau bakal jadi fotomodel dia menjaga jarak hanya sekitar 1 meter aja dengan gue yang mati-matian ngimbangin renangnya dia. Giliran dia mulai menjauh, eh… dia berbalik arah menuju gue lagi dong !!!

Gue loveable banget kayanya di mata penyu-penyu itu !!! Hahahahahaahh !!!

Dan si aa tampaknya sirik melihat gue bisa berfoto dengan penyu yang gemuk dan unyu-unyu itu. Ga mau kalah, dia ngerebut kamera dan berhasil juga mengabadikan moment-moment indah pacaran sama penyu.

Best capture of the trip !!!

Best capture of the trip !!!

Sampai jumpa lagu, nyuuuu !!!.

Sampai jumpa lagu, nyuuuu !!!.

Oke, mungkin inilah yang bisa gue share dengan pengalaman pertama gue diving. Beberapa video akan gue upload di youtube. Linknya menyusul, karena urusan youtube jatah aa katanya…

Oke, sebagai penutup… gue pengen share kegalauan gue…

Kecantikan underwater Wakatobi memang tidak perlu diragukan. Tapi itu bikin gue bertanya-tanya, apa gue salah memilih Wakatobi sebagai destinasi pertama gue diving??? Gue takut, jika gue besok-besok diving di tempat lain, gue akan kecewa dengan tempat tersebut ketika gue membandingkannya dengan keindahan Wakatobi yang bercita rasa dunia ini.

We'll miss you, coral... :(

We’ll miss you, coral… 🙁

Pelangi-pelangiiii, alangkah indahmu...

Pelangi-pelangiiii, alangkah indahmu…

Akankah gue menemukan kecantikan bawah laut seperti ini selain di Wakatobi ? #seriusnanya

Akankah gue menemukan kecantikan bawah laut seperti ini selain di Wakatobi ? #seriusnanya

Terlalu banyak spot indah di Wakatobi, bahkan jika kamu melakukan diving 4x sehari selama sebulan penuh pun kamu tidak akan diving di spot yang sama. Ini dikarenakan perairan Wakatobi terlalu kaya dan tak ada habisnya untuk bisa dinikmati sebentar saja.

Semua yang pernah ke Wakatobi pasti mengakui bahwa ini spot penyelaman terbaik di dunia. Mereka akan tergila-gila dan menyesal karena hanya menyediakan waktu sebentar saja disini. Butuh waktu 1-2 bulan agar kamu benar-benar puas menikmati setiap inci keindahan perairan Wakatobi yang bersahabat ini secara keseluruhan.

Pak Willy pun yang pernah melakukan penyelaman di Bunaken, Tulamben, bahkan perairan Flores dan Papua pun mengakui bahwa Wakatobi adalah yang terbaik selama pengalaman divingnya. Bahkan dari beberapa artikel yang kubaca, penyelam kelas dunia yang sudah ribuan kali menyelam pun kaget dengan kecantikan bawah laut yang dimiliki Wakatobi namun tidak banyak diekspos oleh media.

Wakatobi adalah penyelaman terbaik kelas dunia yang dianugerahkan kepada Indonesia. Sayangnya, pengelolaan disini belum tertata cukup baik sehingga hanya kaum ‘berduit’ yang bisa menikmatinya karena alasan keterbatasan akomodasi.

Tidak banyak homestay disini sehingga backpacker tidak memiliki banyak pilihan. Bahkan tidak ada deretan kios souvenir seperti tempat wisata pada umumnya. Itu yang menjadikan WDR menjadi resort monopoli dengan harga selangit karena belum ada pesaing resort di kelasnya. Padahal, Wakatobi memiliki segalanya yang pecinta bawah laut cari.

Intinya, disini lebih banyak bule yang menikmati keindahan Wakatobi dibanding orang lokalnya. Bahkan, seingatku dalam perjalanan kemarin, hanya kami satu-satunya turis lokal yang berada di Tomia saat itu.