Wakatobi Dive Resort Review : Area Presticious di Tanah Tomia

ireztia

Namanya Wakatobi Dive Resort, biasa disingkat WDR. Terletak di bagian selatan Pulau Tomia. Merupakan area ‘elite’ yang hanya ditempati turis kelas atas karena harga sewanya yang tinggi dan menggunakan kurs dollar.

Disana mereka bukan hanya mengelola kawasan resor semata, namun diberi hak oleh pemerintah dalam mengelola ekosistem lautnya sepanjang 12km dari resort tersebut. Pengelolaan yang meliputi siapa saja yang boleh/tidak melakukan segala aktifitas laut disana. Mereka pulalah yang berkewajiban menjaga ekosistem laut agar tetap terjaga bersih dan sehat,

IMG20151013115957

WDR menguasai 12km perairan di sekitar resor mereka…

Hasilnya memang patut diakui bahwa kawasan ini menjadi sangat terkelola dengan baik dan profesional. Mereka cukup berkomitmen dalam menjaga kelestarian terumbu karangnya. Namun, sisi buruknya adalah hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmati keindahan surga laut Wakatobi. Bahkan, para pelaut lokal Tomia pun menjadi salah satu orang yang tidak diperbolehkan menyelam di area konservasi mereka.

IMG20151013114955

Cantiknya WDR ketika kapal kami mendekat…

Jangankan menyelam, jika kita mendekati dermaga mereka saja, sudah ada pasukan protokol khusus yang menjaga daerah tersebut berdiri tegak di ujung dermaga. Seolah mereka kedatangan bajak laut, hahaa… Jika ada kapal yang membawa tamu ke dermaga, mereka akan membawa catatan buku tamu dan menanyakan identitas tamu yang dibawa kapal tersebut.

Jika nama tamu terdapat dalam daftar, maka mereka akan menyambut dengan sangat hangatnya. Bahkan kamu akan mendengar seluruh petugas disana menyebut namamu ketika masuk ke resort. Namun jika nama kamu tidak ada dalam list mereka, jangan sedih jika kapal akan disuruh menjauh beserta awak-awaknya.

Eksklusif dan ketat sekali penjagaan disana…

So, saya termasuk orang yang beruntung karena bisa menjejakkan kaki di WDR dengan sponsor keluarga yang baik hati, Bapak Willy, Ibu Bina dan anak sulungnya Mbak Sabrina. Kesempatan ini saya gunakan untuk memburu berbagai dokumentasi di WDR untuk kepentingan artikel blog tercinta ini. Hehehe…

Di hari terakhir penyelaman, saya dan suami diundang untuk makan siang di WDR. Senang sekali rasanya, mengingat kemarin-kemarin kami hanya melewati area ini dari kejauhan, namun sekarang benar-benar akan mendamparkan diri disana. Meskipun awalnya sempat deg-degan karena security disana memandang kami dengan pandangan tajam.

IMG20151013115724

Ketika mendekati dermaga WDR, seorang security sudah siap siaga mengawasi kapal kami…

Well, karena itulah sengaja saya mengupas tuntas salah satu resort mewah ini mengingat jarang sekali review Wakatobi Dive Resort dalam versi bahasa Indonesia.

Hal ini mungkin dikarenakan beberapa sebab :

  1. Tarif menginap yang lumayan menguras kantong. Antara 399-899 US $/malam bukanlah harga yang murah untuk wisatawan lokal. Tarif makan siang dengan menu internasional disana $50/person. Lumayan mahal…
  2. Waiting list yang sangat panjang dalam daftar calon tamu mereka. Konon, katanya perlu waktu tunggu 1 tahun untuk bisa membooking resort disini. Jadi, kamu booking sekarang, bisa dapat kamar kosongnya beberapa bulan kemudian. Ngalahin daftar tunggu Umroh kayanya…
  3. Orang lokal yang datang kesini ga suka kegiatan photografi ataupun menulis seperti saya, (ehem..) sehingga mereka hanya menyimpan kenangan tentang tempat ini di memori masing-masing, hehe…
IMG20151013115819

Kapal mulai merapat ke dermaga

IMG20151013115748

Makan siang dengan panorama lautan lepas…

IMG20151013120022

Suami dan Mbak Sabrina…

Saat naik ke dermaga, kami disambut hangat oleh security setelah dia memastikan nama Ibu Bina berada dalam list tamu mereka. Kami diajak masuk ke dalam lounge dan disambut oleh manager resort disana. Namanya James. Ramah dan menyenangkan.

IMG20151013120152

Area lounge Wakatobi Dive Resort bersama Ibu Bina…

Saat saya memperhatikan sekeliling, barulah saya sadar bahwa orang Indonesia disini adalah minoritas. Kenyataannya, satu-satunya pengunjung lokal hanyalah kami berlima. Sisanya para pramuniaga dan chef. Jadi bisa dikatakan, 99% tamu resor ini adalah orang bule semua.

Lalu, James mengajak kami berlima berkeliling resortnya. Menyesalkan kenyataan bahwa resortnya telah full booked sampai 6 bulan ke depan, sehingga kami disini hanya bisa berkesempatan makan siang saja.


IMG20151013121556

Kalau buat saya sih, diajak makan siang di tempat romantis kaya gini secara gratis pula udah alhamdulillah banget 😀

James sibuk menunjukkan seisi resort, saya pun sibuk potret sana-sini. Yippieee !!!

IMG20151013121655

Dan James pun menunjukkan interior resort disana. IMHO, sebenarnya resort disana setara dengan resort-resort Bali atau Gili Trawangan senilai 1-2jt/malam. Namun disini mereka bisa mematok sewa dua kali lipat dikarenakan WDR adalah satu-satunya resort mewah yang berada di Wakatobi, area penyelaman laut terbaik kelas dunia.

IMG20151013121638

Tampak depan resort…

IMG20151013121741

Lemari pakaian full jati…

IMG20151013121856

IMG20151013121745

Meja kerja

IMG20151013121811

Bathroom.. yang unik disini adalah lantainya yang terbuat dari batu alam yang sedingin marmer

IMG20151013121821

Outdoor bathroom

IMG20151013122107

View pemandangan dari depan resort langsung ke area gradasi pantai yang cantik

Oke, setelah puas berkeliling dengan telanjang kaki (dan matahari sangat menyengat sehingga saya terbirit-birit mencari lantai yang adem), akhirnya makan siang tiba…

IMG20151013122619

Area restaurant

IMG20151013122710

IMG20151013134717

IMG20151013122701

Benar-benar liburan ini namanya…

IMG20151013135003

Abaikan kulit yang eksotis ataupun kaki yang hampir meleleh menginjak pasir panas…



Selama makan siang, para chef hilir mudik menawarkan menu-menu spesial mereka. Aku yang saat menulis artikel ini tengah diet ketat (ehm..) hanya bisa mengangguk-angguk pasrah melihat banyak eskrim dan cake yang menggoda dan harus cukup puas dengan segelas capuccino.

Para chef itu tampaknya sangat senang melihat tamu lokal, apalagi Ibu Bina dengan supelnya mengajak mereka semua ngobrol santai. Satu hal yang patut kuapresiasi dari beliau, Ibu Bina tidak pernah lupa nama setiap orang sehingga dia selalu mengajak ngobrol setiap orang yang dikenalnya dengan sebutan nama langsung.

Menurutku, itu so sweet. Merasa dispesialkan di hari pertama berkenalan adalah gerbang pembuka kita memiliki banyak jaringan pertemanan, bukan ?

Dari sanalah chef-chef itu bercerita banyak. Bahwa mereka sudah berapa lama bekerja di WDR, lalu apa pekerjaan mereka sebelumnya. Banyak dari mereka adalah chef-chef yang sudah berpengalaman berkeliling dunia karena bekerja di kapal pesiar.

Well, mendengar cerita mereka, aku dan aa sepakat ke depannya ingin mencoba wisata Live on Board (LOB) dengan kapal pesiar. Berkelana mengelilingi Indonesia dan dunia. Amiinnn… Boleh dong mimpi setinggi langit, siapa tahu didengar Gusti Allah.

IMG20151013135309

Chef menyerahkan bunga cantik dari tissue untuk Ibu Bina dan Pak Willy


IMG20151013135017

Setelah puas makan siang, akhirnya kapal menjemput kami di dermaga. Kami harus segera pulang.

Dan Pak Rahmad pun menjemput kami dengan tawa lebarnya sambil berkata dengan jealous,

Baru 2 jam di WDR, pasti kalian sudah melupakan kami disini…”

IMG20151013140055

IMG20151013140458

Note : semua foto didokumentasikan dengan HP Oppo Find 7 oleh owner blog ini, Ireztia.

Review serunya perjalanan kami di channel Youtube Ireztia

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

One Response to “Wakatobi Dive Resort Review : Area Presticious di Tanah Tomia”
  1. Cynthia Dewi hartono

    Hi mbak bole tau kalau di wdr wlpn org indo pun harganya jg pake usd ya hehe

    Reply
Leave a Reply