Tragedi Kendari : Kupikir Rabies itu Penyakit Masa Lalu

ireztia

Penyakit rabies adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies, penyakit rabies termasuk dalam kategori penyakit zoonotic (penyakit yang ditularkan oleh hewan kepada manusia contohnya anjing, kucing, kera, kelelawar/red). Rabies juga disebut penyakit anjing gila.

Penyakit rabies ditularkan kepada manusia biasanya melalui kontak langsung dengan air liur yang sudah terinfeksi virus rabies, baik malalui gigitan atau goresan. Penyebab utama penularan rabies pada manusia adalah melalui gigitan anjing yang telah terinfeksi virus rabies dan kebanyakan kasus rabies akan berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Awalnya, kupikir rabies itu jenis penyakit yang sudah langka ditemukan di manusia karena meningkatnya tingkat pengetahuan manusia tentang suntik vaksin hewan peliharaannya. Apalagi di perkotaan dimana vaksin rabies menjadi suatu keharusan bagi para pemilik hewan perliharaan seperti kucing, anjing dan monyet.

Bahkan, kata-kata “rabies” lebih sering terdengar sebagai bahan lelucon belaka di zaman sekarang ketimbang melihat langsung manusia yang benar-benar kehilangan nyawanya akibat penyakit mematikan itu.

Dan sayangnya, gue menyaksikan sendiri kengerian itu. Bayangan ketakutan bahwa aa digigit kucing rabies dan menebak-nebak akibatnya sangat menyakitkan.

Berawal dari aa yang terlalu bersikap malaikat untuk bersusah payah menelepon dokter hewan di Kendari agar mengobati kucing yang terluka saat kami makan malam di seberang hotel tempat kami menginap. Kucing liar. Jelek pula. Aa menyadari kalau kucing kurus tersebut ekornya terluka dan bernanah. Seperti habis bertempur dan menjadi korban gigitan makhluk yang lebih ganas.

IMG20151009200011

Di pangkal ekornya terdapat luka

Niatnya, aa mau membawa kucing tersebut ke pinggir jalan sambil menunggu dokter datang ke tempat. Tapi sepertinya kucing itu merasa terancam dan menjadi beringas. Singkat cerita, kucing itu berhasil kabur dan meninggalkan bekas gigitan yang cukup dalam sebanyak 3 buah dan membuat darah mengalir deras.

Ketika dokter datang dan berbicara dengan kami di lobby hotel, aa menceritakan kronologis dan meminta maaf karena kucingnya kabur. Kami benar-benar tidak enak, khawatir disangka berbohong telah mempermainkan dokter tersebut untuk jauh-jauh datang kemari.

Alih-alih menuduh kami berbohong, Bu Nurmala, nama dokter hewan yang baik hati itu, malah mengkhawatirkan keadaan aa yang bekas gigitannya kelihatan cukup parah. Beliau meminta petugas hotel untuk memberikan antiseptic dan meminta bantuan akomodasi mobil untuk mengantar aa ke rumah sakit terdekat.

Tadinya kita pikir Bu Nurmala lebay, digigit kucing masa sampe segitunya nyuruh kami ke rumah sakit. Namun setelah beliau menjelaskan bahwa di Kendari sedang terjadi wabah rabies, dengan meningkatnya kucing dan anjing pengidap rabies serta tingginya angka kematian manusia akibat rabies, aku jadi mulai panik.

Hewan yang positif mengidap rabies hanya bisa bertahan hidup 2 minggu saja sebelum akhirnya mati. Sementara korban gigitannya (red : manusia) paling lama hanya bisa bertahan 4 bulan jika daya tahan tubuhnya kuat atau letak gigitannya jauh dari syaraf otak.”

Aku dan aa terdiam dan saling berpandangan.

Jangan khawatir. Belum tentu kucing tadi rabies. Ini hanya antisipasi aja mengingat dia menggigit suami mbak dengan beringas. Andai kucing tersebut bisa kami tangkap, kami harus membedah otaknya untuk memastikan apakah dia mengidap rabies atau tidak. Karena jika iya, bapak harus divaksin 4x jika ingin selamat.”

Aku lemas. Menahan tangis. Mengutuki kebodohan aa yang harus bersikap sebaik itu pada kucing liar di tanah rantau. Sudah tidak bisa berpikir, aku sadar malam itu sudah pukul 8 malam. Aku sebenarnya lelah dan ingin segera beristirahat untuk penerbangan besok pagi ke Wakatobi. Tapi kenyataannya aku harus bergerilya mencari vaksin rabies di rumah sakit mengingat weekend seperti saat itu jarang dokter spesialis yang masih berjaga.

Beruntung pihak hotel meminjamkan mobil dan supir gratis untuk membantu pengobatan kami. Saya berterimakasih sekali melalui artikel ini kepada manajemen Swiss Bell Hotel Kendari yang memperlakukan kami dengan sangat baik.

Kami diantar ke klinik Kimia Farma untuk menemui dokter syaraf, namun dokter saat itu tidak ada di tempat. Kemudian kami dirujuk ke puskesmas, ternyata di puskesmas pun hanya ada dokter jaga. Tadinya aku sempat bertanya, suntik doang kan suster juga bisa. Atau Bu Nurmala sendiri saja yang nyuntik.

Namun Bu Nurmala bilang, sebelum disuntik aa harus  dioperasi kecil dulu untuk mengeluarkan bisa gigitan tersebut sekaligus darah sebanyak-banyaknya agar tidak terlanjur menyebar ke pembuluh darah lain. Karena itu harus ada dokter syaraf.

Jam 9 malam, Bu Nurmala meminta supir hotel mengantar kami ke rumah sakit. Beruntung disitu ada dokter yang sedang berjaga dan segera melakukan operasi kecil.

IMG20151009212308

Aku sedikit lega, karena rasanya semua akan baik-baik saja. Namun ternyata kabar buruk selanjutnya datang, vaksin rabies di rumah sakit itu sedang kosong.

Sempat aku berpikir untuk membatalkan rencana liburan kami dan memboyong aa kembali ke Bandung untuk mendapatkan pengobatan yang layak. Aku sadar kita ga bisa mempermainkan waktu. Aku gak mau mempertaruhkan nyawa suami aku dengan mengundurkan jadwal vaksin setibanya kami di Bandung hanya untuk melanjutkan perjalanan kami ke Wakatobi.

Beruntung kami bertemu Bu Nurmala. Beliau berjanji tidak akan meninggalkan kami sebelum menemukan vaksin tersebut. Aku sangat terharu dengan kebaikan hatinya. Tidak bisa dibayangkan jika kami bertemu dengan dokter hewan yang apatis, mungkin saja sekarang aku sebatang kara mencari pertolongan yang entah harus kemana aku cari di kota yang sama sekali tidak aku kenal.

Semoga Allah membalas kebaikanmu ya Bu…

Kusadari beliau selama beberapa waktu sibuk menelepon seluruh koleganya untuk mencari vaksin rabies yang tersisa. Beliau selalu bilang “teman saya digigit kucing, butuh vaksin… tolong dibantu…

Terharu sangat. Orang yang baru ia temui beberapa jam lalu, dengan ringannya beliau sebut kami teman dan memohon agar orang yang diteleponnya menolong kami. Rasaku bercampur aduk. Masih ada orang sebaik ini ya Allah… beda sekali dengan karakter masyarakat urban yang apatis.

Sempat satu jam kami kebingungan karena di semua apotik tidak ada persediaan vaksin, akhirnya Bu Nurmala mendapatkan kabar bahwa ada stok vaksin rabies cukup banyak di pusat rehabilitasi rabies.

Letaknya memang agak jauh dari kota. Aku berulang kali meminta maaf kepada supir hotel karena harus melakukan tugas di luar semestinya. Saat itu sudah hampir pukul 11 malam saat akhirnya aa mendapatkan vaksin rabiesnya.

IMG20151009225646

Akhirnya saya bisa tidur nyenyak malam ini. Lega rasanya lihat suami mbak sudah disuntik. Saya trauma melihat begitu banyak orang mati akhir-akhir ini hanya karena mereka tidak mau mendengarkan saran saya untuk disuntik segera setelah mereka digigit hewan liar.”

Aku memeluk Bu Nurmala terharu. Terimakasih tak terhingga yang tak bisa aku utarakan.

Bu, saya berada di tanah orang. Tidak ada satupun kerabat saya disini. Tapi ibu sudah amat baik sekali pada kami, padahal kami orang baru buat ibu. Semoga Allah membalas kebaikan ibu berlipat ganda…

Bu Nurmala tersenyum. “Sudah seharusnya seperti ini. Besok kalian sudah bisa berlibur ya, nanti sesampainya di Wakatobi pasti kejadian ini sudah kalian lupakan.”

Aku tertawa sungkan. Karena meski bagaimanapun, di Kendari ini kami menemukan banyak pelajaran berharga.

Tentang arti teman…

Tentang solidaritas…

Tentang kemanusiaan….

IMG20151009231447

Suster – Bu Nurmala dan Suami – Aa dan Gue

PS : artikel ini sengaja saya buat untuk mengungkapkan rasa terimakasih saya kepada Ibu Nurmala dan suaminya, serta para suster, dokter dan mantra, juga driver hotel yang membantu menolong suami saya.

Dan akhirnya, kami sampai di kasur hotel setelah lewat tengah malam. Mempersiapkan energy untuk petualangan kami beberapa hari ke depan…

Wakatobi, I’m coming…

Bagaimana pengalaman serunya diving gue di Wakatobi??

Kali ini, gue membagi cerita Wakatobi – Makassar ke dalam bagian-bagian :

A. Fun Diving di Wakatobi, Surga Bawah Laut Kelas Dunia

B. Wakatobi Dive Resort Review : Area Presticious di tanah Tomia

C. Makassar City Tour : Fort Rotterdam, Pantai Losari dan Taman Nasional Bantimurung

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply