Trilogy Juran Dan Solving Problem Method

ireztia

APLIKASI TEORI TRILOGY JURAN DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA

1. KONSEP TRILOGI JURAN

Joseph M. Juran, Guru Mutu yang kedua setelah Deming, menerjemahkan teori pengendalian mutunya menjadi 3 fungsi manajemen, yang dikenal sebagai TRILOGI JURAN. Ketiga fungsi manajemen yang dimaksud adalah Quality Planning, Quality Control, dan Quality Improvement.

• Quality planning, suatu proses yang mengidentifikasi pelanggan dan proses yang akan menyampaikan produk dan jasa dengan karakteristik yang tepat dan kemudian mentransfer pengetahuan ini ke seluruh kaki tangan perusahaan guna memuaskan pelanggan. Ini dilakukan untuk mempertahankan keloyalan pelanggan dengan cara menyediakan semua kebutuhan mereka, mengembangkan produk atau jasa sesuai dengan keinginan pelanggan, serta mengembangkan proses produksi barang dan jasa agar lebih efisien.

• Quality control, suatu proses dimana produk benar-benar diperiksa dan dievaluasi, dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan para pelanggan. Persoalan yang telah diketahui kemudian dipecahkan, misalnya mesin-mesin rusak segera diperbaiki.

• Quality improvement, suatu proses dimana mekanisme yang sudah mapan dipertahankan sehingga mutu dapat dicapai berkelanjutan. Hal ini meliputi alokasi sumber-sumber, menugaskan orang-orang untuk menyelesaikan proyek mutu, melatih para karyawan yang terlibat dalam proyek mutu dan pada umumnya menetapkan suatu struktur permanen untuk mengejar mutu dan mempertahankan apa yang telah dicapai sebelumnya.

Sejalan dengan ketiga fungsi manajemen tersebut, Juran juga membedakan 2 jenis mutu, yaitu :

a. Mutu Strategis, yaitu mutu produk di tingkat manajerial ( yang bersifat strategis ). Contohnya kebijakan atau system yang berlaku.
b. Mutu Teknis, yaitu mutu produk di tingkat operasional yang bersifat teknis seperti ukuran/bentuk suatu barang atau desain jasa yang diberikan terhadap konsumen.
Hal inilah yang membuat tingkatan manajemen menurut Juran terbagi dua, yaitu Manajemen Strategis dan Manajemen Teknis.

2. APLIKASI JURAN TRILOGI

2.1 Realita Pendidikan di Indonesia

Pemerintah telah mencanangkan wajib belajar 9 tahun bagi anak Indonesia, kemudian diteruskan menjadi 12 tahun, dan mereka berpikir kembali bahwa pendidikan selama 16 tahun hingga perguruan tinggi akan jauh lebih baik bagi perkembangan bangsa. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka dianggap dapat bekerja atau dikatakan terjun langsung ke dalam dunia masyarakat yang sebenarnya.

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah betul pelajaran yang didapat di sekolah dapat memadai untuk menghadapi penghidupan di dunia kerja yang keras dengan segala macam perubahan yang terjadi secara cepat dan terus menerus ? Apakah ribuan rumus dan teori yang dipelajari di sekolah cukup untuk membekali mereka menjadi orang yang sukses ? Jika pengalaman yang didapat dari sekolah ternyata tidak dapat banyak berguna bagi kehidupannya, lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan pemerintah di Indonesia ?

Rendahnya daya saing SDM Indonesia di pasar global membuat sebuah pertanyaan tentang apa yang harus dibenahi dengan pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang bermutu dilihat dari sekolah yang bermutu, karena sekolah yang bermutu bisa menghasilkan SDM bermutu yang bisa hebat di dunia kerja mereka.

Menurut Juran, masalah mutu terletak pada pengelolaannya. Oleh karena itu lembaga pendidikan perlu berbenah kembali dalam mengelola sistem pendidikannya jika tidak ingin terimbas oleh munculnya lembaga-lembaga pendidikan baru yang dikelola oleh pihak swasta. Biasanya, lembaga pendidikan yang baru memiliki motto ‘berwawasan masa depan’ sehingga memiliki nilai jual dan biaya pendidikan yang tinggi.

Sementara itu, para orangtua sekarang menganggap bahwa mutu pendidikan yang bagus adalah sekolah-sekolah yang berharga mahal. Semakin mahal sebuah sekolah, semakin tinggi prestise sekolah tersebut dan itu yang menyebabkan anggapan bahwa sekolah swasta berbiaya mahal memiliki mutu yang baik.

Sebenarnya pernyataan itu ada benarnya, namun yang menjadi masalah adalah jika skeolah-sekolah negeri yang dikelola oleh pemerintah tak kunjung memperbaiki mutu pendidikannya, maka lambat laun sekolah negeri menjadi tidak ada artinya. Hanya orang-orang tak mampu yang sekolah di sekolah negeri. Tentu ini menjadi momok yang tak menyenangkan bagi pemerintah yang terkesal gagal dalam mengelola sebuah institusi pendidikan.

Saat ini lahan pendidikan sudah dilirik oleh pengusaha-pengusaha bermodal besar untuk melebarkan sayap bisnisnya. Pendidikan yang mereka kelola secara professional dan berdasarkan manajemen bisnis yang baik membuat bisnis pendidikan mereka maju pesat dan menghasilkan profit yang tinggi. Sementara lembaga pendidikan pemerintah masih menerapkan manajemen tradisional yang tetap diminati karena biaya yang relatif murah.

Kondisi ini menuntut pemerintah mereformasi sistem pembelajaran di sekolah dengan melihat apa yang tengah berkembang saat ini dan memprediksi apa yang dibutuhkan generasi muda agar siap menghadapi masa depan yang terus berubah.

2.2 PENERAPAN TEORI TRILOGI JURAN DALAM PENDIDIKAN NEGERI DI INDONESIA

PLANNING

2.2.1 Determined our customer

Dalam dunia pendidikan, konsumen lembaga pendidikan pemerintah sebenarnya memiliki rentang yang sangat luas jika saja semua segmen dapat dikelola dengan baik. Dari sisi internal, konsumen pendidikan terdiri dari guru/dosen, staf tata usaha, kepala sekolah/dekan/rektor, penjaga sekolah, pegawai Departemen Pendidikan, dan seluruh karyawan yang bekerja di lembaga pendidikan. Sementara dari sisi eksternal, seorang balita berusia 2 tahun untuk bisnis playgroup, hingga usia produktif akhir sekitar 50 tahun untuk jenjang Doktor dapat dijadikan konsumen eksternal yang potensial.

Hal ini dikarenakan pendidikan yang bersifat universal dan dibutuhkan oleh setiap orang di dunia sehingga konsumen lembaga pendidikan sangatlah banyak. Namun tentu manajemen pendidikan bagi tingkat sekolah dasar berbeda dengan tingkat perguruan tinggi.

2.2.2 Discovered their needs

Pemerintah harus jeli akan kebutuhan konsumen. Selama ini lembaga pendidikan masih dianggap sebagai lembaga sosial sehingga cenderung menyediakan jasa mereka seadanya karena sifat sosialnya tersebut. Selama konsumen mendapatkan pendidikan, pemerintah menganggap hal itu sudah cukup. Padahal jika kita perhatikan bagaimana pihak swasta mengelola bisnis pendidikan mereka, ada banyak hal baik yang bisa pemerintah adopsi.

Dalam sebuah bisnis, konsumen adalah investasi jangka panjang. Kehilangan satu orang konsumen saja karena mereka kecewa kualitas produk/jasa yang ditawarkan, maka kita akan kehilangan 10 orang konsumen potensial. Hal ini disebabkan konsumen tersebut membagikan kekecewaan mereka kepada teman-teman terdekatnya.

Hal inilah yang sangat dijaga oleh pihak swasta. Demi memuaskan konsumen, mereka berani menyediakan fasilitas yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar agar merasa nyaman ketika menuntut ilmu di tempat mereka. Pihak swasta cukup jeli memperhatikan apa yang dibutuhkan konsumen dalam bidang pendidikan dan berhasil menyediakan kebutuhan mereka yang berorientasi pada masa depan.

Misalnya saja, sekolah dan perguruan tinggi swasta memperkerjakan tenaga pengajar ahli yang berkualitas dan membuat teknik belajar yang tidak konservatif. Hal ini membuat siswa/mahasiswa mendapatkan pengalaman lain selain rumus atau teori semata, seperti praktek lapangan yang lebih nyata atau cara mengajar guru/dosen yang menyenangkan dan inspiratif.

Lalu mereka juga memfasilitasi konsumen dengan buku-buku yang kompeten dan teknologi pembelajaran lain seperti multimedia dan internet. Fasilitas kursi dan meja yang layak pakai juga harus diperhatikan dengan baik. Kebutuhan-kebutuhan mendasar dalam proses pengajaran ini sangat mereka perhatikan sehingga konsumen merasa puas dan nyaman menuntut ilmu disana meski harus mengeluarkan biaya yang mahal.

Sementara pemerintah, karena masih menganggap sebagai lembaga sosial, lembaga pendidikan masih bersifat konservatif. Pendidikan bukanlah bisnis, sehingga kepuasan konsumen kurang terperhatikan. Konsumen tidak bisa menuntut banyak, apalagi dengan biaya yang murah kadang pemerintah beralasan kekurangan dana untuk memfasilitasi mereka media-media pembelajaran yang berkualitas. Tanpa pamerintah sadari, pola pembelajaran yang konservatif akan membentuk pola pikir yang sederhana pula dan kurang berkreatifitas ketika mereka berada di dunia kerja nanti.

Keadaan ini berdampak pada jangka panjang, dimana lulusan lembaga pemerintahan semakin tergeser oleh lulusan swasta yang memang berkualitas ( tidak semua lembaga negeri buruk dan sebaliknya, tidak juga semua lembaga swasta baik ), masyarakat dapat melihat sendiri jika mereka memiliki uang lebih, akan lebih baik jika anak-anak mereka disekolahkan di sekolah swasta yang memang sudah berkualitas dan menjanjikan sesuatu yang lebih daripada sekolah negeri.

2.2.3 Develop products/service to respond the needs

Bidang pendidikan sebenarnya menawarkan jasa kepada konsumennya. Jasa bersifat sulit terukur kualitasnya, namun bisa dirasakan. Karena itu jasa lebih bersifat fleksibel dalam memuaskan keinginan konsumennya. Setiap konsumen membutuhkan ilmu pendidikan, namun ada banyak keinginan lain yang ingin mereka dapatkan ketika mereka bersekolah. Karena itu, lembaga pendidikan harus terus berupaya mengembangkan jasa mereka demi memenuhi keinginan konsumen.

Misalnya saja, jam belajar yang padat sering membuat mereka merasa lapar. Jika tempat jajanan/kantin mereka kotor atau tidak enak makanannya, tentu itu cukup membuat mereka tidak nyaman. Karena itu, seperti Universitas Kristen Maranatha yang memiliki kantin kampus terbesar se-Asia Tenggara, menyediakan makanan yang sehat dan lezat bagi para mahasiswanya. Hal ini membuat mahasiswa nyaman dan menjadi nilai tambah tersendiri di mata konsumen. Tanpa disadari juga, bahwa kantin tersebut adalah salah satu bisnis makanan juga yang dikelola oleh pihak universitas untuk menambah pemasukan kampus.

Juga seperti menyediakan tempat beribadah yang layak, toilet yang terjaga kebersihannya, AC di setiap ruangan dan lapangan olahraga yang luas semakin membuat nilai tambah tersendiri bagi lembaga pendidikan tersebut.

Sementara di lembaga pendidikan pemerintah, mereka cenderung kurang inisiatif dalam mengembangkan inovasi-inovasi baru yang mendukung kenyamanan belajar para siswa dan mahasiswa sehingga ada baiknya pemerintah mencontoh apa yang telah dilakukan oleh bisnis pendidikan swasta itu.

2.2.4 Develop processes able to produce the product/service

Jasa pendidikan pun tak akan pernah terlepas dari bagaimana proses sebuah paket pelayanan dalam memberikan ilmu pengetahuan yang membuat siswa/mahasiswa merasa puas. Pemerintah harus menyadari bahwa ini bukan saja menjadi tanggung jawab tenaga pengajar. Dalam hal ini guru atau dosen yang berhadapan langsung kepada siswa/mahasiswa dalam memberikan pengetahuan. Sebuah proses dapat dijalankan dari awal sampai akhir dengan melibatkan banyak pihak.

Ketika mahasiswa baru masuk, maka orang-orang kepegawaian tata usaha sibuk memasukkan data mereka ke dalam sistem kampus sehingga mahasiswa baru dapat menerima pelajaran di ruang kelas dan mata kuliah yang terencana dengan baik. Bayangkan jika nama seorang mahasiswa tidak terdaftar dalam mata kuliah yang seharusnya ia ambil hanya karena kesalahan bagian administrasi, tentu dosen pun tidak dapat memberikan pelayanan jasanya kepada mahasiswa tersebut.

Sehingga ketika sebuah organisasi ingin mengembangkan kualitas produk atau jasa mereka untuk memenuhi kepuasan konsumen, hal yang harus mereka perhatikan bukan hanya mengembangkan produk/jasa apa yang harus diproduksi, tetapi juga bagaimana proses produksi itu dijalankan agar dapat menghasilkan produk/jasa yang sesuai dengan keinginan konsumen.

Dalam hal ini, tingkat manajemen strategik yang dimaksud ialah:

• Umum : Lembaga Legislatif dan Eksekutif di pemerintahan yang bertanggung jawab atas sistem pendidikan di Indonesia.
• Khusus : Ditjen Dikti

Jika pendidikan di Indonesia tidak lagi terpusat, melainkan setiap lembaga pendidikan diberikan kekuasaan otonom untuk mengelola dirinya sendiri seperti yang dilakukan oleh lembaga pendidikan di Amerika dan Australia, makan tingkat manajemen strategik berada dalam pengelolaan Ditjen Dikti dan Depdikbud, serta semua unit seperti kepala universitas, fakultas, dan jurusan.

Mereka harus bisa membuat sebuah sistem yang terstruktur dengan baik dan jelas agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan sesuai rencana. Bagian administrasi harus teliti dalam memasukkan data-data mahasiswa, fasilitas pembelajaran dan alat pendukung harus dipastikan dapat berjalan dengan baik, lalu kualitas tenaga pengajar yang baik serta metode pembelajaran yang tepat sasaran, dan masih banyak lagi sisi-sisi yang harus terencana dengan baik oleh Manajemen Strategik dalam mengembangkan proses pelayanan jasa pendidikan ini.

Misalnya saja, dalam meningkatkan kualitas teknik pengajaran guru dan dosen, Departemen Pendidikan dapat menyelenggarakan seminar atau training tentang metode pengajaran yang modern dan efektif sehingga proses pengajaran mereka pun dapat lebih baik dan berkualitas.

CONTROL

2.2.5 Evaluate actual operating performance

Setelah semua rencana dijalankan, maka kita bisa melihat kenyataan apa yang terjadi di lapangan. Misalnya saja, masih ada mahasiswa yang namanya tidak tercatat dalam daftar absensi mata kuliah tertentu, atau sistem pengambilan mata kuliah baru yang menyulitkan mahasiswa sehingga harus berdesak-desakan di lorong gedung, dosen yang sering absen atau kurang kompeten di mata kuliah yang dipegangnya, fasilitas kampus yang banyak macet, meja-kursi sekolah yang banyak rusak karena ulah jahil anak-anak, atau hal lainnya. Semua masalah itu jika tidak segera terdeteksi oleh pimpinan atas, maka akan terus terbiarkan sehingga akan menjadi bumerang suatu saat nanti.

Karena itulah evaluasi sangat perlu dilakukan agar penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dapat segera diketahui dan dicarikan alternative pemecahannya.

2.2.6 Compare actual performance to goal

Setelah mengetahui kenyataan yang terjadi di lapangan, maka langkah selanjutnya adalah membandingkan kenyataan tersebut dengan rencana atau tujuan yang ingin dicapai dari proses pelayanan jasa tersebut. Misalnya saja, proses belajar seringkali terhambat karena in-focus tidak bisa berjalan dengan baik. Ini menyebabkan dosen sedikit lambat dalam menyampaikan materi yang berujung pada tidak terpenuhinya tuntutan silabus.

Sementara di awal pihak kampus menginginkan silabus terpenuhi hingga materi terakhir, karena terjadi kerusakan fasilitas kampus maka hal itu tidak dapat terpenuhi. Semua tujuan yang ingin dicapai dan setiap aspek yang mendukung terpenuhinya proses pengajaran yang berkualitas harus dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya.

2.2.7 Act on difference

Setelah membandingkan tujuan yang ingin dicapai dengan kenyataan yang terjadi, maka pihak kampus harus bisa mengerti akibat yang ditimbulkan oleh perbedaan rencana semula dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Misalnya seperti kasus in-focus yang rusak, akibat yang ditimbulkan yaitu konsumen merasa tidak puas karena jasa dosen yang diberikan tidak sesuai dengan harapan.

Atau ketika teknik mengajar dosen yang konservatif ( book oriented ) dan guru yang berorientasi pada pekerjaan rumah yang banyak namun malah membuat siswa malas mengerjakannya, itu akan menurunkan kualitas pendidikan itu sendiri yang berujung pada menurunnya kualitas sumber daya yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tersebut. Karena itu mereka harus bisa menemukan cara atau perbaikan sistem yang membuat penyimpangan itu tidak akan terulang kembali.

IMPROVEMENT

2.2.8 Solution

Secara garis besar, permasalahan utama mengapa pendidikan di lembaga pemerintahan kurang menarik adalah kurangnya fasilitas memadai dan metode pengajaran yang konservatif. Ini sangat menarik, karena alasan utama mengapa pemerintah tidak merubah sistemnya berujung pada terbatasnya dana atau anggaran pendidikan.
Padahal, sebenarnya pemerintah hanya perlu mengubah kebijakan strategik mereka dalam mengelola ‘bisnis sosialnya’ ini. Namun terkadang, kegagalan muncul akibat terlalu spesifiknya sasaran mereka yang mengakibatkan sulitnya dicapai dalam kenyataan.

Karena itu ada beberapa langkah dalam menentukan sasaran strategiknya :

• Mengumpulkan berbagai informasi tentang keterampilan yang dibutuhkan siswa/mahasiswa, pada jenjang mana saja keterampilan tersebut diberikan, konsekuesi apa yang harus ditanggung jika keterampilan tersebut diberikan kepada siswa.
• Menyatukan semua informasi dalam urutan yang logis untuk dapat terealisasikan.
• Merencanakan keterampilan yang memang harus dimiliki siswa/mahasiswa dilengkapi analisis dan alasan yang mendukung mengapa program keterampilan atau kebijakan tersebut harus diadakan, hal apa yang mendukung dan pengelolaan seperti apa yang dibutuhkan agar program itu berjalan maksimal.
• Memutuskan keterampilan apa yang mampu dilaksanakan dan kebijakaj apa yang harus dikeluarkan untuk mendukung program tersebut.
Sementara untuk mengarahkan pencapaian sasaran tersebut diperlukan hal-hal seperti ini :
• Mengkoordinasikan seluruh keputusan agar berjalan sesuai dengan rencana
• Mengkomunikasikan kepada semua pihak terkait untuk mendukung dan memperlancar program
• Memotivasi semua pihak agar stabilitas program tetap terjaga
• Mengarahkan, membimbing dan menasehati semua pihak dalam mencapai sasaran.

Dari segi manajemen, terdapat bagian-bagian yang harus terencana secara baik. Yaitu dari segi SDM, keuangan, pemasaran, juga proses produksi jasa pendidikan tersebut. Dari segi Sumber Daya Manusia, tenaga pengajar seperti guru/dosen cenderung memiliki peluang sangat minim untuk menjadi kepala sekolah atau kepala jurusan. Hal ini disebabkan karena jabatan tersebut hanya membutuhkan satu orang saja. Sementara kualitas pengajar itu sendiri berbeda-beda, ada yang dapat diandalkan ada pula yang hanya sekedar menjalankan tugas.

Lalu apa yang membuat mereka termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya ? Career Development perlu diciptakan oleh lembaga untuk memotivasi setiap individu yang terlibat. Setiap individu tahu jelas persyaratan yang harus dipenuhi untuk menduduki suatu jabatan tertentu atau tunjangan yang didapat jika kinerjanya dinilai baik. Setiap individu yang mengikuti pelatihan tertentu akan mendapatkan insentif. Juga motivasi dapat diberikan melalui metode rewars and punishment terhadap individu yang berprestasi atau berkinerja buruk.

Sementara dari sisi proses pembelajarannya sendiri reformasi terjadi di kalangan siswa/mahasiswa. Teknik belajar yang interaktif, interaksi muti arah, multidisipliner, kerja kelompok, tenaga pengajar sebagai fasilitator, mengajarkan bagaimana cara mempelajari sesuatu, memberikan peluang kepada siswa/mahasiswa untuk mengalami berbagai gaya belajar, pembelajaran kritis dengan pendekatan pemecahan masalah yang berorientasi pada masa depan. Pengajar harus bersikap demokratis dan mengembangkan kemampuannya dengan belajar.

Pendidikan seharusnya mengajari bagaimana caranya belajar, bukan memberikan instruksi tentang suatu pelajaran tertentu. Apa yang harus dipelajari sebenarnya tidak terlalu penting, yang penting adalah bagaimana cara mempelajarinya. Hal ini dapat berguna ketika siswa/mahasiswa tersebut menemukan realita baru yang terus berganti sehingga mereka menyadari perlunya belajar seumur hidup.

Lalu karyawan internal yang bertugas sebagai teknisi harus bisa menyediakan peralatan yang siap pakai, meminimalisasikan kerusakan melalui perawatan dan pemeriksaan menurut waktu yang dijadwalkan serta mengganti alat yang sudah habis masa pakainya secara berkala.

Dari segi biaya pendidikan yang harus ditanggung, ada 4 jenis biaya yaitu biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kegagalan internal, dan biaya kegagalan eksternal. Biaya pencegahan merupakan biaya yang terjadi untuk menghindari ketidaksempurnaan program yang akan dijalankan. Biaya penilaian adalah biaya untuk menilai apakah program memenuhi syarat kualitas untuk mendeteksi jika kesalahan akan terjadi.

Biaya kegagalan internal terjadi jika ada ketidaksesuaian denga persyaratan dan terdeteksi sebelum program dilaksanakan. Biaya kegagalan eksternal paling mahal karena terjadi setelah program dilaksanakan dan merupakan resiko paling membahayakan karena menyebabkan reputasi buruk dan hilangnya pangsa pasar.

Karena begitu banyaknya biaya yang terjadi, termasuk biaya operasional, riset dan pengembangan, investasi masa depan, dll maka diperlukan pemasukan tambahan agar terjadi keseimbangan neraca.

Misalnya biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan training akan menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas. Maka secara bisnis, hal itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang kembali. Organisasi dapat membuat paket pelatihan bagi umum dengan menggunakan tenaga terlatih itu sehingga akan mendapatkan keuntungan ganda. Lembaga akan dikenal masyarakat, sumber daya manusia internal dapat mengaktualisasi dirinya dan lembaga mendapatkan nominal uang.

Atau juga lembaga telah membiayai investasi berupa fasilitas gedung baru atau laboratorium komputer. Dalam kondisi seperti ini lembaga dapat memanfaatkan fasilitas tersebut saat tidak terpakai untuk disewakan kepada masyarakat sekitar. Atau bisa juga seperti yang telah disebutkan di atas, bisnis kantin makanan yang dikelola secara professional di area sekolah atau kampus dapat menghasilkan pemasukan yang cukup besar juga.

Lalu dari segi pemasaran, lembaga pendidikan pemerintah pun perlu melakukan pemasaran. Bukan untuk menjaring konsumen, karena kebanyakan institusi pemerintah tidak pernah kesulitan mencari konsumen. Tetapi untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa lembaga pemerintah pun masih jauh lebih baik daripada lembaga swasta yang mahal. Hal yang harus dilakukan adalah :

• Riset pasar mengenai data konsumen, meliputi siapa saja dan apa kebutuhan mereka, bagaimana pandangan mereka tentang pendidikan, bagaimana kemampuan mereka dalam hal keuangan, tren pendidikan seperti apa yang muncul di kalangan mereka, juga mendata pesaing melalui analisis SWOT.
• Menentukan program yang akan dipasarkan, tempat berdirinya lembaga tersebut ( strategis ), promosi yang menarik dan harga yang terjangkau.

Sehingga pada akhirnya jika dari segi pemasaran, keuangan, SDM, dan produksi jasa dapat terkelola dengan baik, secara jangka panjang hal ini akan berdampak pada peningkatan kualitas lulusan institusi negeri yang berujung pada reputasi yang semakin baik dan terdepan.

2.2.9 Standardize

Manajemen pendidikan yang terkelola dengan baik dari segala aspek.

3. PENERAPAN ‘PROBLEM SOLVING METHOD’ DALAM PENDIDIKAN NEGERI DI INDONESIA

3.1 Identifikasi opportunity untuk meningkatkan kinerja melalui gejala yang terlihat dari fakta di lapangan

Gejala yang terjadi di lapangan adalah berubahnya paradigma masyarakat dalam memandang sebuah kualitas pendidikan dimana pendidikan yang mahal itu yang berkualitas. Peluang akan terjadi bagi lembaga pendidikan swasta yang terorganisasi dengan baik untuk menjaring pangsa pasar baru dari pangsa pasar pemerintahan. Sebaliknya, hal ini merupakan ancaman bagi lembaga pendidikan pemerintah yang mendapatkan konsumen hanya karena biaya pendidikannya dianggap lebih murah dan lebih diprioritaskan saat mencari pekerjaan.

3.2 Menentukan area masalah

Pemerintah harus berusaha lebih keras dalam mereformasi manajemen pendidikan yang selama ini masih terasa konvensional jika tidak ingin kehilangan konsumennya. Membuat lembaga pendidikan bukan hanya semata lembaga sosial tanpa memberikan kepuasan penuh terhadap konsumennya, tetapi juga dapat memperlakukan lembaga pendidikan ini sebagai lahan bisnis yang bisa memenuhi keinginan konsumen.

3.3 Analisis proses yang terjadi dan penyebab potensialnya

Sistem belajar yang tidak nyaman bagi konsumen, fasilitas sekolah dan kampus yang kurang memadai untuk proses pembelajaran serta guru/dosen yang kurang memiliki komitmen dalam mengabdikan diri sepenuhnya kepada siswa/mahasiswa, gaya mengajar yang membosankan serta kurangnya motivasi seluruh konsumen internal dan eksternal yang disebabkan manajemen pendidikan tidak terogranisir secara baik, menyebabkan tujuan pemerintah dalam mencerdaskan bangsa sangat sulit tercapai. Siswa dan mahasiswa diinstusi pemerintah cenderung kurang disiplin jika dibandingkan dengan institusi swasta.

3.4 Mengembangkan dan mengimplementasikan solusi optimal

Dari segi manajemen, terdapat bagian-bagian yang harus terencana secara baik. Yaitu dari segi SDM, keuangan, pemasaran, juga proses produksi jasa pendidikan tersebut. Dari segi Sumber Daya Manusia, tenaga pengajar seperti guru/dosen cenderung memiliki peluang sangat minim untuk menjadi kepala sekolah atau kepala jurusan. Hal ini disebabkan karena jabatan tersebut hanya membutuhkan satu orang saja. Sementara kualitas pengajar itu sendiri berbeda-beda, ada yang dapat diandalkan ada pula yang hanya sekedar menjalankan tugas.

Lalu apa yang membuat mereka termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya ? Career Development perlu diciptakan oleh lembaga untuk memotivasi setiap individu yang terlibat. Setiap individu tahu jelas persyaratan yang harus dipenuhi untuk menduduki suatu jabatan tertentu atau tunjangan yang didapat jika kinerjanya dinilai baik. Setiap individu yang mengikuti pelatihan tertentu akan mendapatkan insentif. Juga motivasi dapat diberikan melalui metode rewars and punishment terhadap individu yang berprestasi atau berkinerja buruk.

Sementara dari sisi proses pembelajarannya sendiri reformasi terjadi di kalangan siswa/mahasiswa. Teknik belajar yang interaktif, interaksi muti arah, multidisipliner, kerja kelompok, tenaga pengajar sebagai fasilitator, mengajarkan bagaimana cara mempelajari sesuatu, memberikan peluang kepada siswa/mahasiswa untuk mengalami berbagai gaya belajar, pembelajaran kritis dengan pendekatan pemecahan masalah yang berorientasi pada masa depan. Pengajar harus bersikap demokratis dan mengembangkan kemampuannya dengan belajar.

Pendidikan seharusnya mengajari bagaimana caranya belajar, bukan memberikan instruksi tentang suatu pelajaran tertentu. Apa yang harus dipelajari sebenarnya tidak terlalu penting, yang penting adalah bagaimana cara mempelajarinya. Hal ini dapat berguna ketika siswa/mahasiswa tersebut menemukan realita baru yang terus berganti sehingga mereka menyadari perlunya belajar seumur hidup.

Lalu karyawan internal yang bertugas sebagai teknisi harus bisa menyediakan peralatan yang siap pakai, meminimalisasikan kerusakan melalui perawatan dan pemeriksaan menurut waktu yang dijadwalkan serta mengganti alat yang sudah habis masa pakainya secara berkala.

Dari segi biaya pendidikan yang harus ditanggung, ada 4 jenis biaya yaitu biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kegagalan internal, dan biaya kegagalan eksternal. Biaya pencegahan merupakan biaya yang terjadi untuk menghindari ketidaksempurnaan program yang akan dijalankan. Biaya penilaian adalah biaya untuk menilai apakah program memenuhi syarat kualitas untuk mendeteksi jika kesalahan akan terjadi.

Biaya kegagalan internal terjadi jika ada ketidaksesuaian denga persyaratan dan terdeteksi sebelum program dilaksanakan. Biaya kegagalan eksternal paling mahal karena terjadi setelah program dilaksanakan dan merupakan resiko paling membahayakan karena menyebabkan reputasi buruk dan hilangnya pangsa pasar.

Karena begitu banyaknya biaya yang terjadi, termasuk biaya operasional, riset dan pengembangan, investasi masa depan, dll maka diperlukan pemasukan tambahan agar terjadi keseimbangan neraca.

Misalnya biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan training akan menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas. Maka secara bisnis, hal itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang kembali. Organisasi dapat membuat paket pelatihan bagi umum dengan menggunakan tenaga terlatih itu sehingga akan mendapatkan keuntungan ganda. Lembaga akan dikenal masyarakat, sumber daya manusia internal dapat mengaktualisasi dirinya dan lembaga mendapatkan nominal uang. Atau juga lembaga telah membiayai investasi berupa fasilitas gedung baru atau laboratorium komputer.

Dalam kondisi seperti ini lembaga dapat memanfaatkan fasilitas tersebut saat tidak terpakai untuk disewakan kepada masyarakat sekitar. Atau bisa juga seperti yang telah disebutkan di atas, bisnis kantin makanan yang dikelola secara professional di area sekolah atau kampus dapat menghasilkan pemasukan yang cukup besar juga.

Lalu dari segi pemasaran, lembaga pendidikan pemerintah pun perlu melakukan pemasaran. Bukan untuk menjaring konsumen, karena kebanyakan institusi pemerintah tidak pernah kesulitan mencari konsumen. Tetapi untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa lembaga pemerintah pun masih jauh lebih baik daripada lembaga swasta yang mahal. Hal yang harus dilakukan adalah :

• Riset pasar mengenai data konsumen, meliputi siapa saja dan apa kebutuhan mereka, bagaimana pandangan mereka tentang pendidikan, bagaimana kemampuan mereka dalam hal keuangan, tren pendidikan seperti apa yang muncul di kalangan mereka, juga mendata pesaing melalui analisis SWOT.
• Menentukan program yang akan dipasarkan, tempat berdirinya lembaga tersebut ( strategis ), promosi yang menarik dan harga yang terjangkau.

Sehingga pada akhirnya jika dari segi pemasaran, keuangan, SDM, dan produksi jasa dapat terkelola dengan baik, secara jangka panjang hal ini akan berdampak pada peningkatan kualitas lulusan institusi negeri yang berujung pada reputasi yang semakin baik dan terdepan.

3.5 Mempelajari hasilnya

Terjadi perubahan positif dalam sistem administrasi yang baik, fasilitas yang berjalan baik karena dirawat oleh teknisi, tenaga pengajar yang semakin berkualitas dalam memenuhi harapan konsumen, dan keuangan yang baik karena ditopang oleh bisnis-bisnis sampingan, dimana semua perubahan tersebut dapat merubah paradigma baru bahwa institusi negeri tetap layak diperhitungkan sehingga akan berdampak pada reputasi baik di masa datang.

3.6 Menstandarisasi solusi

Langkah-langkah dalam menentukan sasaran strategik lembaga pendidikan pemerintah :
• Mengumpulkan berbagai informasi tentang keterampilan yang dibutuhkan siswa/mahasiswa, pada jenjang mana saja keterampilan tersebut diberikan, konsekuesi apa yang harus ditanggung jika keterampilan tersebut diberikan kepada siswa.
• Menyatukan semua informasi dalam urutan yang logis untuk dapat terealisasikan.
• Merencanakan keterampilan yang memang harus dimiliki siswa/mahasiswa dilengkapi analisis dan alasan yang mendukung mengapa program keterampilan atau kebijakan tersebut harus diadakan, hal apa yang mendukung dan pengelolaan seperti apa yang dibutuhkan agar program itu berjalan maksimal.
• Memutuskan keterampilan apa yang mampu dilaksanakan dan kebijakaj apa yang harus dikeluarkan untuk mendukung program tersebut.
Sementara untuk mengarahkan pencapaian sasaran tersebut diperlukan hal-hal seperti ini :
• Mengkoordinasikan seluruh keputusan agar berjalan sesuai dengan rencana
• Mengkomunikasikan kepada semua pihak terkait untuk mendukung dan memperlancar program
• Memotivasi semua pihak agar stabilitas program tetap terjaga
• Mengarahkan, membimbing dan menasehati semua pihak dalam mencapai sasaran.

3.7 Merencanakan apa yang harus dilakukan ke depannya.

Terus berinovasi dan berkreasi dalam penelitian untuk mengembangkan teknik dan seni mengelola pendidikan secara lebih berkualitas lagi sehingga lembaga pendidikan pemerintah dapat menghasilkan lulusan terbaik yang mampu bersaing di dunia kerja internasional dan menjadikan institusi pendidikan di Indonesia menjadi salah satu institusi terbaik di dunia karena manajemen pendidikannya yang bermutu tinggi. Salah satu caranya adalah mengalokasikan sebagian besar biaya pada riset ilmiah yang dapat melahirkan ilmu-ilmu terapan dan teknologi baru yang menunjang perekonomian Indonesia.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply